OTOMOTIFMEDIA.COM - Pertamina dan Transjakarta menjajaki pengembangan bus berbasis hidrogen untuk transportasi publik di Jakarta.
Dua unit bus hidrogen ditargetkan mulai ditempatkan pada 2028, menggunakan kendaraan hibah Pemerintah Korea Selatan kepada Pemerintah Indonesia.
Penjajakan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) oleh Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza dan Direktur Utama Transjakarta Welfizon Yuza di Jakarta.
Kerja sama ini menjadi langkah awal untuk mengembangkan ekosistem hidrogen sebagai sumber energi rendah karbon di sektor transportasi.
Selain menekan emisi, inisiatif tersebut diarahkan untuk mendukung peningkatan kualitas udara di Ibu Kota.
“Melalui penandatanganan nota kesepahaman ini, kami ingin menjajaki pengembangan ekosistem hidrogen yang tidak hanya mendukung kebutuhan energi bersih di sektor transportasi, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan energi dan pengurangan emisi,” ujar Oki.
Menurut Oki, pengembangan hidrogen untuk transportasi publik memerlukan kolaborasi antara penyedia energi dan operator transportasi.
Penjajakan bersama Transjakarta mencakup kajian solusi energi bersih, termasuk peluang penerapan kendaraan hidrogen melalui program percontohan atau pilot project/proof of concept.
Dua bus yang direncanakan untuk layanan Transjakarta tersebut menggunakan teknologi fuel cell electric vehicle(FCEV), yakni kendaraan listrik yang memanfaatkan sel bahan bakar hidrogen untuk menghasilkan listrik.
Pengembangan bus juga akan didukung kajian infrastruktur produksi dan pengisian hidrogen.
Namun, rencana ini masih berada pada tahap penjajakan dan pengembangan, sehingga belum menjadi pengoperasian komersial yang dipastikan.
Inisiatif tersebut turut berkaitan dengan proyek Waste to Hydrogen (W2H) Pertamina. Program ini menjajaki pemanfaatan gas metana dari sampah untuk menghasilkan biometana dan hidrogen rendah karbon.
Melalui pendekatan tersebut, pengembangan energi bersih diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Upaya ini juga sejalan dengan target Indonesia mencapai net zero emission pada 2060 atau lebih cepat.
Oki menilai sinergi lintas sektor menjadi bagian penting untuk memperluas pemanfaatan energi bersih di Indonesia.
Kolaborasi dengan Transjakarta diharapkan membuka peluang penerapan teknologi rendah karbon untuk transportasi publik pada masa mendatang.







