OTOMOTIFMEDIA.COM - Maserati dikabarkan menyiapkan dua model kendaraan listrik baru melalui kolaborasi dengan Huawei dan JAC Motors.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi merek mewah asal Italia tersebut untuk memperkuat kembali posisinya di pasar otomotif global setelah mengalami penurunan penjualan dalam beberapa tahun terakhir.
Mengutip laporan Future Cars Daily yang diberitakan CarNewsChina pada 17 September 2026, kedua model yang disiapkan terdiri dari SUV listrik berukuran sedang hingga besar serta grand tourer atau GT listrik berukuran besar.
SUV tersebut diposisikan sebagai model pelengkap Maserati Grecale Folgore.
Sementara itu, model GT listrik akan mengembangkan karakter GranTurismo Folgore sekaligus mempertahankan identitas sporty yang menjadi bagian dari warisan Maserati.
Sumber industri menyebutkan bahwa Maserati saat ini mempertimbangkan untuk meluncurkan model GT listrik sebagai produk pertama dari kolaborasi tersebut.
Kolaborasi ini tidak hanya mencakup pengembangan kendaraan listrik, tetapi juga melibatkan aspek teknologi, manufaktur, merek, dan distribusi.
Huawei akan berperan melalui platform Harmony Intelligent Mobility Alliance (HIMA), termasuk teknologi kokpit pintar, sistem bantuan mengemudi otonom Qiankun ADS, serta teknologi penggerak listrik.
Sementara itu, JAC Motors akan memanfaatkan fasilitas manufaktur Maextro untuk menangani proses rekayasa dan produksi kendaraan.
Di sisi lain, Maserati tetap berkontribusi melalui bahasa desain khas yang telah dibangun selama lebih dari satu abad serta jaringan penjualan globalnya.
Dalam skema strategi dua merek, kendaraan hasil kolaborasi tersebut rencananya dipasarkan menggunakan merek Maextro di China.
Namun, kendaraan yang ditujukan untuk pasar internasional akan tetap menggunakan emblem Maserati.
Untuk menekan biaya produksi tanpa sepenuhnya meninggalkan identitas Italia, Maserati dikabarkan akan menerapkan skema Semi Knocked Down (SKD).
Melalui skema ini, struktur dasar kendaraan atau body in white akan diproduksi di fasilitas JAC di Hefei, China.
Komponen tersebut kemudian dikirim ke Italia untuk menjalani proses perakitan akhir, termasuk pemasangan interior premium dan kalibrasi sasis.
Strategi tersebut juga diarahkan untuk mengoptimalkan kembali fasilitas produksi Maserati di Cassino dan Modena, Italia.
Adapun pasar awal yang menjadi sasaran ekspor meliputi Timur Tengah, Italia, Prancis, dan Jerman.
Maserati disebut masih akan mempertahankan kendali yang cukup besar atas strategi distribusi internasional.
Penjualan Maserati Tertekan
Rencana kerja sama dengan Huawei dan JAC muncul ketika Maserati tengah menghadapi tekanan bisnis.
Pada 2025, penjualan global Maserati tercatat turun hingga di bawah 8.000 unit.
Angka tersebut merosot sekitar 80 persen dibandingkan pencapaian tertinggi merek pada 2017 sekaligus menjadi level terendah dalam lebih dari satu dekade.
Dari sisi keuangan, Maserati juga mencatat kerugian operasional yang disesuaikan sebesar 198 juta euro.
Dengan asumsi kurs 1 euro sekitar Rp19.000, nilai tersebut setara dengan kurang lebih Rp3,76 triliun.
CEO Stellantis Antonio Filosa sebelumnya mengakui perlunya mitra industri untuk membantu mengamankan masa depan Maserati tanpa harus menjual merek tersebut.
Melalui pemanfaatan teknologi Huawei dan kemampuan manufaktur JAC, Maserati diharapkan dapat memperkuat kemampuan riset dan pengembangan sekaligus mempercepat transformasi digital untuk menghadapi persaingan di segmen kendaraan mewah.







