Era PHEV Lama Berakhir? Regulasi Baru China Bikin Merek Eropa Kelabakan

Penulis - | Editor - Harryt Dagu

Rabu, 10 Juni 2026 08:11:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Era PHEV Lama Berakhir? Regulasi Baru China Bikin Merek Eropa Kelabakan

OTOMOTIFMEDIA.COM – China kembali menunjukkan pengaruhnya dalam menentukan arah industri otomotif global. 

 

Kali ini bukan melalui mobil listrik murni (EV), melainkan lewat regulasi baru yang mengubah definisi kendaraan plug-in hybrid (PHEV).

 

Melansir laman Carscoops, mulai Januari 2026, pemerintah China resmi memperketat aturan insentif pajak untuk kendaraan PHEV. 

 

Jika sebelumnya kendaraan hanya membutuhkan kemampuan berkendara listrik sejauh 43 kilometer untuk mendapatkan keringanan pajak, kini batas tersebut melonjak menjadi 100 kilometer.

 

Kebijakan ini langsung mengubah lanskap pasar otomotif terbesar di dunia dan memberi tekanan besar kepada sejumlah pabrikan premium Eropa seperti Audi, BMW, Mercedes-Benz hingga Jaguar Land Rover.

 

Selama bertahun-tahun, mayoritas PHEV buatan Eropa mengandalkan baterai berkapasitas relatif kecil dengan jarak tempuh listrik yang terbatas. 

 

Konsepnya sederhana, kendaraan dapat digunakan sebagai mobil listrik untuk perjalanan harian dan mengandalkan mesin bensin saat melakukan perjalanan jauh.

 

Namun standar tersebut kini dianggap tidak lagi cukup di China.

 

Banyak PHEV terbaru buatan pabrikan lokal kini mampu melaju lebih dari 160 kilometer hanya dengan tenaga listrik sebelum mesin bensin bekerja.

 

Akibatnya, sejumlah model PHEV premium Eropa yang sebelumnya menikmati berbagai insentif mulai kehilangan daya tarik karena tidak lagi memenuhi syarat regulasi terbaru.

 

China Ubah Definisi Plug-in Hybrid

 

Perubahan yang dilakukan pemerintah China tidak hanya menyasar jarak tempuh listrik.

 

Regulator juga memperketat standar efisiensi bahan bakar ketika kendaraan beroperasi menggunakan mesin konvensional. Artinya, kendaraan dengan mesin besar dan konsumsi bahan bakar tinggi semakin sulit memenuhi regulasi yang berlaku.

 

Kondisi tersebut membuat banyak PHEV generasi lama mulai terlihat kurang kompetitif dibanding produk-produk terbaru dari pabrikan China.

 

Kini muncul tren baru di mana kendaraan PHEV tidak lagi sekadar mobil bensin yang diberi baterai tambahan, melainkan kendaraan listrik yang kebetulan masih memiliki mesin pembakaran internal sebagai sumber tenaga cadangan.

 

Pabrikan China Semakin Mendominasi

 

Sejumlah produsen otomotif China memanfaatkan perubahan regulasi tersebut dengan menghadirkan PHEV berjarak tempuh listrik yang jauh lebih panjang.

 

Salah satu contoh ekstrem datang dari Lotus melalui model Eletre Hybrid yang diklaim mampu menempuh hingga 420 kilometer dalam mode listrik berdasarkan standar CLTC China.

 

Meski angka tersebut cenderung lebih optimistis dibanding standar internasional, Lotus tetap mengklaim jarak tempuh sekitar 350 kilometer berdasarkan pengujian WLTP Eropa.

 

Pendekatan seperti ini semakin banyak digunakan pabrikan China, yakni membangun kendaraan berbasis platform EV kemudian menambahkan mesin bensin sebagai range extender atau sumber tenaga tambahan.

 

Sebaliknya, sebagian besar pabrikan Eropa masih mengembangkan PHEV dari basis kendaraan bermesin pembakaran internal.

 

Ancaman Baru untuk Pasar Eropa

 

Dampak perubahan ini diperkirakan tidak hanya terjadi di China. Sejumlah merek China mulai mengekspor PHEV berteknologi terbaru ke pasar Eropa.

 

Model seperti Lynk & Co 08 telah memasuki beberapa negara Eropa dengan menawarkan jarak tempuh listrik yang jauh di atas rata-rata PHEV konvensional.

 

Langkah serupa juga dipersiapkan oleh sejumlah merek lain di bawah grup Geely.

 

Jika tren ini terus berlanjut, pasar Eropa berpotensi menghadapi persaingan baru di mana keunggulan teknologi PHEV tidak lagi berada di tangan pabrikan premium Jerman, melainkan bergeser ke produsen China yang lebih agresif dalam mengembangkan elektrifikasi.

 

Perubahan regulasi di China akhirnya tidak hanya mengubah aturan permainan, tetapi juga berpotensi mendefinisikan ulang masa depan kendaraan plug-in hybrid secara global.

 

Berita Terkait

Baru Pulang dari Mekkah, Om Daeng Lanjut Gaspol Yamaha XMAX Techmax Keliling Sulawesi Bikin Pangling, Grand Filano Hybrid Disulap Jadi Skutik Urban Rally 80-an Bergaya Kalcer Bikin Geger! Aldi Satya Mahendra Ukir Sejarah di World Supersport Australia 2026 Bikin Penasaran, Drift King Keiichi Tsuchiya Siapkan Proyek Rahasia untuk IMX 2026 Lama Menghilang, BMW Kejutkan Pengunjung IIMS 2026 dengan Luncurkan 4 Motor Baru Bikin Bangga Indonesia! Julian Johan Torehkan Double Prestasi di Event Rally Dakar 2026 AHM Terjunkan 50 Mekanik Beri Layanan Servis Gratis untuk Korban Bencana Alam di Sumatera Suzuki Indonesia Gandeng Kementerian Perindustrian Salurkan Rp 300 Juta untuk Korban Bencana Alam Sumatera
Berita ini 0 kali dibaca