Indonesia Tak Mau Lagi Jadi Pemasok Bahan Baku, Industri Baterai Dibidik Naik Kelas

Penulis - | Editor - Dicky Kurniawan

Minggu, 16 Agustus 2026 16:04:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia Tak Mau Lagi Jadi Pemasok Bahan Baku, Industri Baterai Dibidik Naik Kelas

OTOMOTIFMEDIA.COM – Indonesia tengah didorong untuk tidak berhenti sebagai pemasok bahan baku dalam rantai industri baterai global. 

 

Penguatan riset, teknologi, sumber daya manusia, investasi, hingga kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar Indonesia bisa naik kelas menjadi salah satu pusat industri dan teknologi baterai dunia.

 

Dorongan tersebut menjadi salah satu fokus International Battery Summit (IBS) 2026 yang kembali digelar oleh National Battery Research Institute (NBRI) bersama Pamerindo Indonesia dan ID Battery (Asosiasi Ekosistem Baterai Indonesia).

 

Mengusung tema “Empowering the Energy Transition through Advanced Battery Technology, Renewable Energy, Storage & E-mobility”, IBS 2026 akan berlangsung pada 26–28 Agustus 2026 di JIEXPO Convention Centre & Theatre, Jakarta. 

 

Forum ini ditargetkan mempertemukan lebih dari 1.000 peserta dan 100 pembicara dari lebih dari 35 negara. 

 

Bukan sekadar membahas teknologi baterai, IBS 2026 akan mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, investor, peneliti, hingga penyedia teknologi untuk membicarakan pengembangan ekosistem baterai dari hulu hingga hilir.

 

Topik yang dibahas mencakup teknologi baterai, manufaktur, bahan baku, energi terbarukan, sistem penyimpanan energi, kendaraan listrik, investasi, keselamatan baterai, hingga ekonomi sirkular dan pengelolaan baterai setelah masa pakainya. 

 

Indonesia Punya Modal Besar, Tapi Tak Cukup Hanya Mengandalkan Sumber Daya Alam

 

Indonesia dinilai memiliki modal strategis untuk mengambil peran lebih besar dalam industri baterai global. 

 

Potensi tersebut mencakup sumber daya mineral, pertumbuhan manufaktur, perkembangan kendaraan listrik, serta meningkatnya investasi di sektor baterai.

 

Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi industri yang memiliki daya saing dan keberlanjutan dalam jangka panjang.

 

Founder NBRI sekaligus Research Professor di BRIN, Evvy Kartini, menilai penguasaan teknologi dan penguatan riset menjadi faktor penting agar Indonesia tidak hanya menjadi bagian dari rantai pasok global.

 

“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk mengambil peran strategis dalam industri baterai global. Namun, membangun ekosistem baterai yang kompetitif dan berkelanjutan tidak cukup hanya dengan mengandalkan sumber daya alam dan investasi," kata Evvy.

 

"Indonesia perlu memperkuat riset, inovasi, dan penguasaan teknologi, membangun kolaborasi yang erat antara pemerintah, akademisi, industri, dan lembaga riset, serta mengembangkan sumber daya manusia yang profesional dan kompeten,” ujarnya melanjutkan. 

 

Menurutnya, pengalaman negara lain yang telah lebih dahulu membangun industri baterai dan kendaraan listrik juga penting dipelajari. 

 

IBS 2026 diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman tersebut dengan pelaku industri nasional.

 

“Melalui IBS 2026, kami ingin menghadirkan para pemangku kepentingan nasional dan internasional dalam satu platform untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik terbaik, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang dapat memperkuat daya saing Indonesia dalam ekosistem baterai global," ucap Evvy.

 

Industri Baterai Butuh Kolaborasi, Bukan Jalan Sendiri-sendiri

 

Ketua ID Battery sekaligus Co-Chair International Battery Summit 2026, Niko Chandra, melihat Indonesia sedang berada pada momentum penting untuk membangun ekosistem baterai yang terintegrasi.

 

“Indonesia memiliki momentum yang sangat kuat untuk mengembangkan ekosistem baterai yang terintegrasi dan berdaya saing global. Namun, potensi ini perlu diimbangi dengan kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, industri, akademisi, investor, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Niko. 

 

Kebutuhan kolaborasi tersebut juga mencakup hubungan yang lebih erat antara dunia industri dan akademisi. 

 

Pasalnya, kebutuhan baterai ke depan diproyeksikan tidak hanya datang dari kendaraan listrik, tetapi juga dari pengembangan energi terbarukan.

 

Director of Business & Academy Development NBRI sekaligus Executive Director ID Battery, Muhammad Firmansyah, mengatakan kebutuhan Battery Energy Storage System (BESS) akan semakin strategis seiring pengembangan pembangkit listrik tenaga surya.

 

Firmansyah menilai masa depan industri baterai Indonesia akan sangat ditentukan oleh seberapa efektif kita menghubungkan kebutuhan industri dengan riset, inovasi, pengembangan talenta, dan peluang pasar. 

 

"Kebutuhan baterai ke depan juga tidak hanya datang dari kendaraan listrik, tetapi semakin erat kaitannya dengan pengembangan energi terbarukan. Dengan target pengembangan PLTS hingga 100 GW, kebutuhan terhadap Battery Energy Storage System (BESS) menjadi semakin strategis untuk mengatasi intermitensi energi surya, menjaga keandalan sistem, serta mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan,” ucapnya.

 

Bidik Investasi dan Industri Bernilai Tambah

 

Selain teknologi, investasi menjadi salah satu agenda penting yang ingin didorong melalui IBS 2026.

 

Director of Strategic Partnership & Industry Development NBRI, Reynaldi Istanto, mengatakan Indonesia memiliki peluang untuk bergerak lebih jauh dari sekadar bagian dari global battery supply chain.

 

“Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang dari sekadar bagian dari global battery supply chain menjadi salah satu investment and industrial hubs utama untuk industri baterai. Untuk mencapainya, kita membutuhkan investasi, teknologi, akses pasar, serta proyek-proyek yang memiliki dasar bisnis yang kuat,” kata Reynaldi.

 

Sementara itu, Senior Event Manager Pamerindo Indonesia, Max Bruinier, mengatakan IBS 2026 juga menjadi bagian dari rangkaian menuju The Battery Show Asia-Indonesia 2026, yang merupakan bagian dari Energy Week - IEE Series 2026 pada 2–5 September 2026.

 

“IBS 2026 dan The Battery Show Asia-Indonesia 2026 dirancang sebagai platform yang mempertemukan pemimpin industri, pembuat kebijakan, investor, akademisi, serta penyedia teknologi untuk saling bertukar pengetahuan dan mengeksplorasi peluang baru,” ujarnya.

 

Baterai Bukan Lagi Sekadar Urusan Mobil Listrik

 

Perkembangan industri baterai kini semakin erat dengan agenda transisi energi. 

 

Baterai tidak hanya dibutuhkan untuk kendaraan listrik, tetapi juga berperan dalam penyimpanan energi terbarukan dan mendukung proses dekarbonisasi industri.

 

Karena itu, IBS 2026 akan mengangkat sejumlah isu mulai dari advanced battery technology, battery manufacturing, renewable energy, energy storage system, electric vehicle and mobility, investasi, battery safety, battery end-of-life, hingga circular economy. 

 

Prof. Evvy menegaskan bahwa transisi energi merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi kolaborasi.

 

“Transisi energi merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan kolaborasi berkelanjutan. IBS 2026 menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperkuat perannya tidak hanya sebagai produsen material dan produk terkait baterai, tetapi juga sebagai pusat teknologi, inovasi, riset, dan pengembangan industri yang berkelanjutan,” ucap Evvy memungkasi.

Berita Terkait

Dari Mobil Kenegaraan China ke SUV Listrik Premium, Hongqi Resmi Masuk Indonesia Tak Sekadar Servis, Isuzu Siapkan Strategi Agar Armada Pelanggan Tak Banyak ‘Nginep’ Mau Pesan Motorhome Baze? Siapkan Rp500 Jutaan dan Tunggu Sekitar 4 Bulan Akebono Cetak Sejarah, Kampas Rem ULTI X Jadi yang Pertama Kantongi SNI 9370:2025 di Indonesia GIIAS 2026: Daihatsu Cetak Talenta Otomotif Masa Depan, Libatkan 445 SMK di Indonesia Setahun Mitsubishi Destinator: Dari Pendatang Baru Menjadi SUV Keluarga Favorit Indonesia Tak Perlu Cari Charger, Smart Hybrid Suzuki Bikin Perjalanan Jarak Jauh Lebih Tenang GIIAS 2026: Subaru Bawa Outback Generasi Ketujuh dan Tiga Model Edisi Terbatas ke Indonesia
Berita ini 3 kali dibaca