Tabrakan Beruntun di Tol Masih Terjadi, Ini 8 Kebiasaan Pengemudi yang Bisa Memicunya

Penulis - | Editor - Harryt Dagu

Sabtu, 19 September 2026 16:05:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tabrakan Beruntun di Tol Masih Terjadi, Ini 8 Kebiasaan Pengemudi yang Bisa Memicunya

OTOMOTIFMEDIA.COM - Tabrakan beruntun di jalan tol tidak selalu disebabkan oleh kerusakan kendaraan atau kegagalan sistem pengereman. 

 

Kebiasaan pengemudi seperti tidak menjaga jarak, bermain ponsel, hingga memaksakan pindah lajur juga dapat memicu kecelakaan beruntun.

 

Kecelakaan beruntun yang terjadi di Tol Dalam Kota Jakarta dan menyebabkan kemacetan panjang menjadi pengingat bahwa keselamatan berkendara tidak hanya bergantung pada fitur keselamatan mobil. 

 

Perilaku pengemudi tetap menjadi faktor penting untuk mencegah kecelakaan.

Auto2000 menjelaskan, pengemudi perlu menerapkan pola defensive driving atau berkendara defensif. 

 

Teknik ini menuntut pengemudi untuk selalu mengantisipasi potensi bahaya, termasuk pergerakan kendaraan lain di sekitar mobil.

 

“Tabrakan beruntun kerap terjadi lantaran pengguna kendaraan tidak patuh aturan lalu lintas seperti menjadi lane hogger, mengemudi di kecepatan yang tidak sesuai, tidak menjaga jarak aman, dan mengemudi di bahu jalan,” kata Nur Imansyah Tara, Marketing Division Head Auto2000.

 

8 Kebiasaan yang Bisa Memicu Tabrakan Beruntun

 

1. Menguasai Lajur Cepat Terlalu Lama

 

Kebiasaan menjadi lane hogger atau menggunakan lajur kanan dengan kecepatan rendah dapat mengganggu arus lalu lintas. 

 

Kondisi ini berisiko karena kendaraan dari belakang mungkin melaju lebih cepat dan kesulitan mengantisipasi jarak.

 

Setelah selesai mendahului, pengemudi sebaiknya kembali ke lajur tengah atau kiri sesuai kondisi jalan.

 

2. Tidak Menjaga Jarak Aman

 

Jarak terlalu dekat dengan kendaraan di depan membuat pengemudi tidak memiliki cukup waktu untuk bereaksi ketika terjadi pengereman mendadak.

 

Risiko tersebut semakin besar saat mobil melaju dalam kecepatan tinggi. 

 

Fitur keselamatan canggih sekalipun tidak dapat sepenuhnya menggantikan pentingnya jarak aman dan kewaspadaan pengemudi.

 

3. Melaju di Bahu Jalan Tol

 

Bahu jalan diperuntukkan bagi kondisi darurat, bukan sebagai lajur tambahan untuk menyalip atau menghindari kemacetan.

 

Kendaraan yang melaju kencang di bahu jalan dapat menabrak mobil yang sedang berhenti karena keadaan darurat. 

 

Sebaliknya, pengemudi di lajur utama juga bisa kehilangan kendali ketika berusaha menghindari kendaraan yang berhenti di bahu jalan.

 

4. Mengalihkan Perhatian ke Ponsel

 

Penggunaan ponsel saat mengemudi dapat membuat perhatian teralihkan hanya dalam beberapa detik. 

 

Pengemudi mungkin tidak menyadari kendaraan di depan mulai mengurangi kecepatan atau berpindah lajur.

 

Akibatnya, pengereman dilakukan terlambat dan berpotensi memicu tabrakan beruntun. Karena itu, ponsel sebaiknya disimpan sebelum kendaraan mulai berjalan.

 

5. Mengemudi dalam Kondisi Mengantuk

 

Rasa kantuk dapat menurunkan konsentrasi dan memperlambat respons pengemudi. 

 

Dalam kondisi tertentu, mobil bahkan bisa berpindah lajur atau mengurangi kecepatan tanpa disadari.

 

Jika mulai mengantuk, pengemudi sebaiknya segera mencari tempat aman untuk beristirahat. Memaksakan perjalanan justru meningkatkan risiko kecelakaan.

 

6. Pindah Lajur Tanpa Memeriksa Kondisi Sekitar

 

Pindah lajur secara tiba-tiba, terutama ke lajur cepat, dapat membahayakan kendaraan lain yang datang dari belakang.

 

Pengemudi perlu memeriksa spion, menyalakan lampu sein, dan memastikan terdapat ruang yang cukup sebelum berpindah lajur. 

 

Jangan hanya mengandalkan asumsi bahwa lajur di sebelah sedang kosong.

 

7. Mengabaikan Aturan Lalu Lintas

Pelanggaran terhadap batas kecepatan, larangan menyalip, dan marka jalan dapat meningkatkan risiko kecelakaan.

 

Marka garis lurus, misalnya, menunjukkan bahwa pengemudi tidak diperbolehkan berpindah lajur pada area tersebut. 

 

Mengemudi secara agresif atau seenaknya dapat membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lain.

 

8. Mengabaikan Kondisi Lampu Kendaraan

 

Lampu kendaraan berfungsi sebagai alat komunikasi dengan pengguna jalan lain. Salah satu komponen yang sangat penting adalah lampu rem.

 

Jika lampu rem tidak berfungsi, kendaraan di belakang bisa terlambat mengetahui bahwa mobil di depannya sedang mengurangi kecepatan atau berhenti. 

 

Kondisi tersebut berpotensi memicu tabrakan, terutama ketika kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi.

 

Cara Mencegah Tabrakan Beruntun

 

Auto2000 menyarankan pengemudi menjaga jarak aman dengan menerapkan teknik berhitung tiga detik. 

 

Caranya, pilih objek tetap di jalan, lalu hitung waktu sejak kendaraan di depan melewati objek tersebut hingga mobil sendiri melewatinya.

 

Jarak tersebut perlu ditambah ketika hujan, kondisi jalan licin, visibilitas terbatas, atau kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi.

 

Pengemudi juga harus mengikuti aturan kecepatan yang berlaku. 

 

Mobil yang terlalu lambat dapat menyulitkan kendaraan lain dalam mengantisipasi pergerakan, sedangkan kecepatan berlebihan membuat jarak pengereman semakin panjang.

 

Selain itu, pengemudi perlu menjaga fokus, memperluas pandangan ke sekitar kendaraan, dan memeriksa spion secara berkala.

 

Pemeriksaan spion membantu pengemudi mengetahui kondisi kendaraan di belakang, terutama ketika harus melakukan pengereman atau menghadapi situasi darurat.

 

Kondisi kendaraan juga tidak boleh diabaikan. Servis berkala diperlukan untuk memastikan sistem pengereman, lampu, ban, dan komponen penting lainnya tetap bekerja optimal.

Berita Terkait

Diukur Pakai Laser, Presisi di Balik Wrap Daihatsu Rocky GIIAS 2026 800 Starter Siap Panaskan Sentul, Kejurnas Drag Race Putaran 3 Usung Wajah Baru 85 Porsche Konvoi Lintas Jawa, Porsche Club Indonesia Pecahkan Rekor MURI 80 Tahun Vespa: Dari Ikon Italia ke Gaya Hidup Lintas Generasi di Indonesia Masih Banyak yang Salah Paham, Ini Perbedaan Denda Lupa SIM vs Tak Punya SIM Ini Status Perizinan Taksi Green SM yang Terlibat Kecelakaan KA Argo Bromo di Bekasi Dibekali Mesin 4.778 cc EURO 4, Isuzu ELF Refrigerator Jadi Perhatian di GIICOMVEC 2026 Masih Belum Terlambat, Ini Komponen Penting yang Harus Dicek Pasca Mudik Lebaran
Berita ini 6 kali dibaca