OTOMOTIFMEDIA.COM - Tabrakan beruntun di jalan tol tidak selalu disebabkan oleh kerusakan kendaraan atau kegagalan sistem pengereman.
Kebiasaan pengemudi seperti tidak menjaga jarak, bermain ponsel, hingga memaksakan pindah lajur juga dapat memicu kecelakaan beruntun.
Kecelakaan beruntun yang terjadi di Tol Dalam Kota Jakarta dan menyebabkan kemacetan panjang menjadi pengingat bahwa keselamatan berkendara tidak hanya bergantung pada fitur keselamatan mobil.
Perilaku pengemudi tetap menjadi faktor penting untuk mencegah kecelakaan.
Auto2000 menjelaskan, pengemudi perlu menerapkan pola defensive driving atau berkendara defensif.
Teknik ini menuntut pengemudi untuk selalu mengantisipasi potensi bahaya, termasuk pergerakan kendaraan lain di sekitar mobil.
“Tabrakan beruntun kerap terjadi lantaran pengguna kendaraan tidak patuh aturan lalu lintas seperti menjadi lane hogger, mengemudi di kecepatan yang tidak sesuai, tidak menjaga jarak aman, dan mengemudi di bahu jalan,” kata Nur Imansyah Tara, Marketing Division Head Auto2000.
8 Kebiasaan yang Bisa Memicu Tabrakan Beruntun
1. Menguasai Lajur Cepat Terlalu Lama
Kebiasaan menjadi lane hogger atau menggunakan lajur kanan dengan kecepatan rendah dapat mengganggu arus lalu lintas.
Kondisi ini berisiko karena kendaraan dari belakang mungkin melaju lebih cepat dan kesulitan mengantisipasi jarak.
Setelah selesai mendahului, pengemudi sebaiknya kembali ke lajur tengah atau kiri sesuai kondisi jalan.
2. Tidak Menjaga Jarak Aman
Jarak terlalu dekat dengan kendaraan di depan membuat pengemudi tidak memiliki cukup waktu untuk bereaksi ketika terjadi pengereman mendadak.
Risiko tersebut semakin besar saat mobil melaju dalam kecepatan tinggi.
Fitur keselamatan canggih sekalipun tidak dapat sepenuhnya menggantikan pentingnya jarak aman dan kewaspadaan pengemudi.
3. Melaju di Bahu Jalan Tol
Bahu jalan diperuntukkan bagi kondisi darurat, bukan sebagai lajur tambahan untuk menyalip atau menghindari kemacetan.
Kendaraan yang melaju kencang di bahu jalan dapat menabrak mobil yang sedang berhenti karena keadaan darurat.
Sebaliknya, pengemudi di lajur utama juga bisa kehilangan kendali ketika berusaha menghindari kendaraan yang berhenti di bahu jalan.
4. Mengalihkan Perhatian ke Ponsel
Penggunaan ponsel saat mengemudi dapat membuat perhatian teralihkan hanya dalam beberapa detik.
Pengemudi mungkin tidak menyadari kendaraan di depan mulai mengurangi kecepatan atau berpindah lajur.
Akibatnya, pengereman dilakukan terlambat dan berpotensi memicu tabrakan beruntun. Karena itu, ponsel sebaiknya disimpan sebelum kendaraan mulai berjalan.
5. Mengemudi dalam Kondisi Mengantuk
Rasa kantuk dapat menurunkan konsentrasi dan memperlambat respons pengemudi.
Dalam kondisi tertentu, mobil bahkan bisa berpindah lajur atau mengurangi kecepatan tanpa disadari.
Jika mulai mengantuk, pengemudi sebaiknya segera mencari tempat aman untuk beristirahat. Memaksakan perjalanan justru meningkatkan risiko kecelakaan.
6. Pindah Lajur Tanpa Memeriksa Kondisi Sekitar
Pindah lajur secara tiba-tiba, terutama ke lajur cepat, dapat membahayakan kendaraan lain yang datang dari belakang.
Pengemudi perlu memeriksa spion, menyalakan lampu sein, dan memastikan terdapat ruang yang cukup sebelum berpindah lajur.
Jangan hanya mengandalkan asumsi bahwa lajur di sebelah sedang kosong.
7. Mengabaikan Aturan Lalu Lintas
Pelanggaran terhadap batas kecepatan, larangan menyalip, dan marka jalan dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
Marka garis lurus, misalnya, menunjukkan bahwa pengemudi tidak diperbolehkan berpindah lajur pada area tersebut.
Mengemudi secara agresif atau seenaknya dapat membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lain.
8. Mengabaikan Kondisi Lampu Kendaraan
Lampu kendaraan berfungsi sebagai alat komunikasi dengan pengguna jalan lain. Salah satu komponen yang sangat penting adalah lampu rem.
Jika lampu rem tidak berfungsi, kendaraan di belakang bisa terlambat mengetahui bahwa mobil di depannya sedang mengurangi kecepatan atau berhenti.
Kondisi tersebut berpotensi memicu tabrakan, terutama ketika kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi.
Cara Mencegah Tabrakan Beruntun
Auto2000 menyarankan pengemudi menjaga jarak aman dengan menerapkan teknik berhitung tiga detik.
Caranya, pilih objek tetap di jalan, lalu hitung waktu sejak kendaraan di depan melewati objek tersebut hingga mobil sendiri melewatinya.
Jarak tersebut perlu ditambah ketika hujan, kondisi jalan licin, visibilitas terbatas, atau kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi.
Pengemudi juga harus mengikuti aturan kecepatan yang berlaku.
Mobil yang terlalu lambat dapat menyulitkan kendaraan lain dalam mengantisipasi pergerakan, sedangkan kecepatan berlebihan membuat jarak pengereman semakin panjang.
Selain itu, pengemudi perlu menjaga fokus, memperluas pandangan ke sekitar kendaraan, dan memeriksa spion secara berkala.
Pemeriksaan spion membantu pengemudi mengetahui kondisi kendaraan di belakang, terutama ketika harus melakukan pengereman atau menghadapi situasi darurat.
Kondisi kendaraan juga tidak boleh diabaikan. Servis berkala diperlukan untuk memastikan sistem pengereman, lampu, ban, dan komponen penting lainnya tetap bekerja optimal.







