OTOMOTIFMEDIA.COM – Di tengah tren elektrifikasi yang terus berkembang, Indonesia mulai menjajaki jalur lain menuju transportasi rendah emisi.
Salah satunya melalui pengembangan Bus Hydrogen-Diesel Dual Fuel (H2-DDF), yang resmi diperkenalkan dalam ajang Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan.
Menariknya, bus ini bukan kendaraan baru yang dibangun dari nol.
Teknologi H2-DDF merupakan hasil konversi bus diesel menjadi kendaraan berbahan bakar ganda yang memanfaatkan kombinasi solar dan hidrogen untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus menekan emisi gas buang.
Proyek percontohan ini melibatkan kolaborasi antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Perum DAMRI, PT PLN (Persero), PT SUCOFINDO (Persero), dan PT Tritunggal Prakasa Global.
Peresmian dilakukan langsung oleh Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang menilai hidrogen memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional.
"Hidrogen merupakan energi alternatif yang sangat penting di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu, seperti konflik di Timur Tengah yang melahirkan ketidakpastian. Kondisi ini memaksa setiap negara untuk memproteksi kebutuhan energi nasionalnya dengan memanfaatkan keunggulan komparatif masing-masing," katanya.
Emisi Berpotensi Turun Hingga 60 Persen
Dalam proyek ini, SUCOFINDO berperan sebagai lembaga independen yang melakukan verifikasi terhadap aspek keselamatan, keandalan, dan kesesuaian teknis teknologi H2-DDF yang diterapkan pada armada DAMRI.
Direktur Utama PT SUCOFINDO (Persero), Sandry Pasambuna, mengatakan keterlibatan perusahaan menjadi bagian dari dukungan terhadap percepatan transisi energi nasional.
"Sebagai perusahaan Testing, Inspection, Certification, and Consulting (TICC), SUCOFINDO berperan sebagai pihak independen yang melakukan verifikasi dan assurance terhadap aspek keselamatan, keandalan, serta kesesuaian teknis implementasi teknologi H2 DDF pada Bus DAMRl," ujarnya.
Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan SUCOFINDO, teknologi H2-DDF menunjukkan potensi penurunan emisi gas buang berupa karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO₂), dan nitrogen oksida (NOx) hingga sekitar 60 persen dibandingkan penggunaan biosolar murni.
Hasil tersebut membuka peluang pemanfaatan hidrogen sebagai salah satu solusi dekarbonisasi sektor transportasi jalan yang selama ini masih bergantung pada bahan bakar fosil.
DAMRI Siap Dorong Transportasi Rendah Emisi
Perum DAMRI menilai proyek ini menjadi langkah awal menuju sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Direktur Teknik dan Fasilitas Perum DAMRI, Arifin, menegaskan pihaknya siap mendukung pengembangan teknologi berbasis hidrogen di Indonesia.
"Keterlibatan kami dalam pilot project H2 DDF menjadi bukti nyata bahwa DAMRI siap berkolaborasi dalam mengembangkan teknologi transportasi rendah emisi sekaligus mendukung penguatan ekosistem hidrogen di Indonesia," ujar Arifin.
Selain mendukung pengembangan teknologi transportasi berbasis hidrogen, SUCOFINDO juga memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Green Hydrogen Academy bersama BLU PPSDM EBTKE Kementerian ESDM, Indonesia Fuel Cell and Hydrogen Energy (IFHE), serta PT MBR Global Indonesia.
Langkah tersebut ditujukan untuk mempercepat pengembangan sumber daya manusia, teknologi, dan standar keselamatan dalam ekosistem hidrogen nasional.
Dalam sesi diskusi bertajuk Raising Awareness of the Role of Low-Carbon Hydrogen in Energy Transition, Sandry Pasambuna menegaskan pentingnya peran lembaga independen dalam memastikan pengembangan teknologi hidrogen berjalan sesuai standar keselamatan dan regulasi.
“Pengembangan teknologi hidrogen memerlukan tingkat kepercayaan yang tinggi karena berkaitan dengan aspek keselamatan, performa, dan kepatuhan terhadap standar. elalui layanan TIC, SUCOFINDO berkomitmen mendukung terciptanya ekosistem hidrogen yang aman, terstandarisasi, dan bankable sehingga dapat mempercepat transisi energi nasional menuju target Net Zero Emission,” ucapnya memungkasi.







