Bisnis Alat Berat dan Emas Tertekan, Laba United Tractors Merosot 88 Persen

Penulis - | Editor - Harryt Dagu

Kamis, 10 September 2026 10:06:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bisnis Alat Berat dan Emas Tertekan, Laba United Tractors Merosot 88 Persen

OTOMOTIFMEDIA.COM – PT United Tractors Tbk (UT) membukukan penurunan kinerja cukup dalam sepanjang semester pertama 2026. 

 

Laba bersih perseroan merosot 88 persen menjadi Rp956 miliar, sementara posisi keuangan berubah dari kas bersih menjadi utang bersih Rp9,4 triliun.

 

Kondisi tersebut disampaikan United Tractors dalam Paparan Publik 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian Public Expose Live 2026 yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia (BEI).

 

Sepanjang Januari-Juni 2026, UT mencatatkan pendapatan bersih Rp58,29 triliun, turun 15 persen dibandingkan Rp68,53 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

 

Penurunan pendapatan terutama dipengaruhi lebih rendahnya penjualan emas PT Agincourt Resources serta melemahnya kinerja bisnis alat berat dan pertambangan batu bara termal dan metalurgi.

 

Tekanan tersebut berkaitan dengan alokasi RKAB batu bara nasional 2026 yang lebih rendah.

 

Di sisi lain, bisnis kontraktor penambangan masih mampu memberikan kontribusi positif, terutama berkat penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD).

 

Laba Bersih Tanpa Faktor Non-Recurring Turun 48 Persen

 

Jika tidak memperhitungkan non-recurring items, laba bersih United Tractors tercatat Rp4,26 triliun, turun 48 persen dari Rp8,20 triliun pada semester pertama 2025.

 

Sementara itu, non-recurring items yang dibukukan selama periode tersebut mencapai Rp3,31 triliun.

 

Komponen tersebut terutama berasal dari penurunan nilai atas Supreme Geothermal Energy serta pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan yang berhubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.

 

Penurunan laba juga tidak lepas dari rendahnya penjualan emas. Operasional Tambang Emas Martabe sempat dihentikan sementara sebelum kembali beroperasi pada kuartal kedua 2026.

 

Dari sisi neraca, per 30 Juni 2026 UT mencatat utang bersih Rp9,4 triliun dengan rasio gearing 8,5 persen.

 

Posisi tersebut berbanding terbalik dengan 31 Desember 2025, ketika perseroan masih memiliki kas bersih Rp7,7 triliun.

 

Perubahan posisi tersebut terutama dipengaruhi akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham.

 

Penjualan Alat Berat Komatsu Turun 23 persen

 

Tekanan terhadap bisnis alat berat terlihat dari penjualan Komatsu hingga Juli 2026.

 

United Tractors mencatat penjualan 2.393 unit alat berat Komatsu, turun 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

 

Penurunan paling besar terjadi pada kategori big machine di sektor pertambangan. 

 

Penjualannya merosot 49 persen menjadi 405 unit, seiring dampak lebih rendahnya alokasi RKAB batu bara nasional.

 

Meski penjualan alat berat turun, bisnis purna jual masih menunjukkan pertumbuhan tipis.

 

Pendapatan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat sampai semester pertama 2026 naik 1 persen menjadi Rp5,5 triliun.

 

Namun, secara keseluruhan pendapatan bersih segmen Alat Berat turun 28 persen menjadi Rp15 triliun.

Selain distribusi alat berat, UT juga memiliki bisnis pendukung di sektor engineering, manufaktur komponen dan attachment, logistik maritim, serta pembuatan dan pemeliharaan kapal.

 

Kontraktor Tambang Masih Tumbuh

 

Di tengah tekanan bisnis alat berat dan komoditas, segmen kontraktor penambangan justru masih mencatat pertumbuhan pendapatan.

 

Bisnis yang dijalankan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) tersebut mencatat pendapatan bersih Rp27,2 triliun hingga semester pertama 2026, naik 4 persen.

 

Pertumbuhan terutama didorong oleh penguatan kurs USD. Namun, dari sisi operasional, volume pekerjaan justru mengalami penurunan.

 

Sampai Juli 2026, volume pemindahan tanah PAMA dan KPP Mining turun 10 persen menjadi 573 juta bank cubic meter (bcm). 

 

Produksi batu bara untuk klien juga turun 3 persen menjadi 80 juta ton, dengan rata-rata stripping ratio 7,1 kali.

 

Penurunan tersebut mengikuti penyesuaian target produksi para klien berdasarkan RKAB yang telah disetujui.

 

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara, PAMA dan KPP Mining juga memperluas bisnis ke sektor mineral lain, termasuk emas dan nikel.

 

Penjualan Batu Bara Turun 18 Persen

 

Bisnis batu bara yang dijalankan melalui PT Tuah Turangga Agung atau Turangga Resources juga menghadapi tekanan.

 

Sampai Juli 2026, volume penjualan batu bara tercatat 6,5 juta ton, termasuk 1,8 juta ton batu bara metalurgi. 

 

Angka tersebut turun 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

 

Dampaknya terlihat pada pendapatan segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi yang turun 4 persen menjadi Rp12,9 triliun hingga semester pertama 2026.

 

Bisnis Emas Jadi Salah Satu Beban Terbesar

 

Segmen yang mengalami penurunan paling dalam adalah Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya.

 

Pendapatan segmen tersebut turun 66 persen menjadi Rp2,4 triliun, terutama akibat penjualan emas yang merosot 82 persen.

 

Bisnis emas UT yang dijalankan PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya mencatat penjualan setara emas hanya 32 ribu ons hingga Juli 2026.

 

Sebagai pembanding, pada periode yang sama 2025 penjualan setara emas mencapai 143 ribu ons.

 

Meski demikian, portofolio mineral UT tidak hanya bergantung pada emas. Perseroan juga terus mengembangkan bisnis nikel.

 

PT Stargate Pasific Resources mencatat penjualan bijih nikel sebesar 973 ribu wet metric ton (wmt) sampai Juli 2026, terdiri dari 316 ribu wmt saprolit dan 657 ribu wmt limonit.

 

UT juga memiliki kepemilikan 20,13 persen di Nickel Industries Limited (NIC), perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi yang memiliki aset utama di Indonesia.

 

UT Akuisisi Tambang Emas dan Buyback Saham

 

Di tengah tekanan kinerja, UT tetap menjalankan ekspansi dan aksi korporasi.

 

Pada 11 Februari 2026, melalui PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Energia Prima Nusantara, UT menyelesaikan akuisisi 100 persen saham PT Arafura Surya Alam, perusahaan pertambangan emas yang berlokasi di Sulawesi Utara.

 

Perseroan juga melanjutkan program pembelian kembali saham.

 

Pada 30 Juni 2026, UT menyelesaikan program buyback yang berlangsung sejak 1 April hingga 30 Juni 2026 dengan total 35,5 juta saham.

 

Selanjutnya, UT menjalankan kembali program pembelian saham dengan nilai maksimal Rp2 triliun untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026.

 

Secara akumulatif, sejak Juli 2022 hingga 30 Juni 2026, United Tractors telah melakukan pembelian kembali sebanyak 239 juta saham dengan total nilai sekitar Rp7,1 triliun.

 

Manajemen menyebut program tersebut merupakan bagian dari keyakinan terhadap prospek perseroan dan kemampuan menghasilkan arus kas berkelanjutan, sekaligus mendukung upaya pemerintah menjaga stabilitas pasar modal.

Berita Terkait

Laba Astra Turun 19 Persen di Semester I 2026, Bisnis Otomotif Justru Melesat 9 Persen Laba Hyundai Melejit di Awal 2026, Mobil Hybrid Jadi Penyelamat di Tengah Tekanan Global United Jadikan Isu Harga BBM Bisa Dongkrak Penjualan Motor dan Sepeda Listrik Danamon dan Adira Finance Tebar Promo Kredit Motor Sampai Tukar Tambah di IIMS 2026 United Tractors Raih Penghargaan Perusahaan Peduli Masyarakat dari Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur United Sediakan Layanan Perawatan dan Perbaikan Sepeda dan Motor Listrik United Tractors Fasilitasi Inovasi Siswa di Ajang LKS Nasional Teknik Alat Berat 2025
Berita ini 2 kali dibaca