OTOMOTIFMEDIA.COM – PT Astra International Tbk mencatat laba bersih sebesar Rp12,53 triliun pada semester pertama 2026 atau turun 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, bisnis otomotif justru tampil sebagai motor pertumbuhan perseroan dengan kenaikan laba bersih 9 persen, ditopang meningkatnya penjualan mobil nasional serta kontribusi kuat dari lini komponen.
Kinerja tersebut memperlihatkan bahwa sektor otomotif masih menjadi fondasi penting Astra ketika bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat menghadapi tekanan akibat turunnya penjualan alat berat, melemahnya produksi batu bara, hingga minimnya kontribusi tambang emas Martabe pada awal tahun.
Secara konsolidasi, Astra membukukan pendapatan bersih Rp157,9 triliun, turun 3 persen dibanding semester pertama 2025.
Sementara laba bersih sebelum memperhitungkan pos non-recurring mencapai Rp14,89 triliun, atau turun 7 persen.
Presiden Direktur Astra, Rudy, mengatakan penurunan laba grup terutama berasal dari melemahnya kontribusi bisnis pertambangan, sementara sektor otomotif dan jasa keuangan tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
"Pada semester pertama 2026, Grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan," katanya.
Menurutnya, Astra tetap optimistis menjalankan strategi korporasi baru yang diperkenalkan pada Mei 2026.
"Di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, kami tetap fokus untuk menjalankan strategi korporasi kami yang baru. Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung oleh alokasi modal yang disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis," ucap Rudy.
Otomotif Jadi Mesin Pertumbuhan
Segmen otomotif menjadi kontributor terbesar terhadap laba Astra dengan capaian Rp5,91 triliun, meningkat 9 persendibandingkan semester pertama tahun lalu.
Peningkatan tersebut didorong membaiknya pasar kendaraan nasional. Penjualan mobil di Indonesia melonjak 16 persenmenjadi 437 ribu unit, sementara penjualan grup Astra naik 10 persen.
Dominasi Toyota dan Daihatsu juga tetap terjaga sebagai dua merek terlaris nasional dengan pangsa pasar gabungan mencapai 51 persen.
Di roda dua, penjualan sepeda motor nasional tumbuh 1 persen menjadi 3,1 juta unit, diikuti kenaikan penjualan Honda sebesar 1 persen dengan pangsa pasar tetap dominan di angka 77 persen.
Kinerja positif juga datang dari bisnis komponen. Divisi ini membukukan laba bersih Rp921 miliar, meningkat 23 persen berkat pertumbuhan di seluruh segmen usaha.
Sementara itu, divisi mobilitas Astra mencatat penjualan mobil bekas sebanyak 15.700 unit, naik 4 persen, sedangkan jumlah kendaraan dalam kontrak meningkat 13 persen menjadi 29.200 unit.
Jasa Keuangan Tetap Solid
Bisnis jasa keuangan Astra juga menunjukkan performa positif dengan laba bersih mencapai Rp4,65 triliun, naik 6 persen.
Nilai pembiayaan baru meningkat 10 persen menjadi Rp61,8 triliun, didukung pertumbuhan pembiayaan kendaraan bermotor dan bisnis multi-cycle.
Tambang dan Alat Berat Tertekan
Berbanding terbalik dengan otomotif, bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat mencatat penurunan laba hingga 46 persen menjadi Rp2,7 triliun sebelum pos non-recurring.
Penyebabnya berasal dari penurunan kuota produksi batu bara nasional (RKAB), melemahnya permintaan alat berat, berkurangnya volume jasa pertambangan, hingga produksi emas Martabe yang sempat terhenti pada awal tahun sebelum kembali beroperasi pada kuartal kedua.
Penjualan alat berat Komatsu turun 27 persen menjadi 1.994 unit, sedangkan penjualan batu bara milik sendiri turun 10 persen menjadi 6 juta ton.
Fokus Tiga Bisnis Inti
Sejalan dengan strategi korporasi baru, Astra kini memusatkan bisnis pada tiga pilar utama, yakni Otomotif, Jasa Keuangan, serta Solusi Pertambangan & Alat Berat.
Perseroan juga menerapkan disiplin alokasi modal melalui program share buyback senilai hingga Rp8 triliun selama 12 bulan.
Anak usaha, United Tractors, turut mengumumkan pembelian kembali saham hingga Rp2 triliun untuk periode tiga bulan.
Selain itu, Astra mulai menjalankan Management Share Ownership Program (MSOP) sebagai bagian dari penyelarasan kepentingan manajemen dengan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.







