Kemenperin Bantah Isu Relokasi Pabrik Komponen Otomotif ke Vietnam, Produksi dan Ekspor Tetap Normal

Penulis - | Editor - Harryt Dagu

Kamis, 25 Juni 2026 07:19:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kemenperin Bantah Isu Relokasi Pabrik Komponen Otomotif ke Vietnam, Produksi dan Ekspor Tetap Normal

OTOMOTIFMEDIA.COM – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan kabar mengenai relokasi dua perusahaan komponen otomotif dari Indonesia ke Vietnam belum terbukti. 

 

Hasil penelusuran lapangan menunjukkan aktivitas produksi kedua perusahaan masih berjalan normal dan tidak terdapat rencana pemindahan fasilitas produksi maupun pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan.

 

Klarifikasi ini disampaikan menyusul berkembangnya pemberitaan terkait dugaan relokasi PT JAI dan PT SAI yang beroperasi di Jawa Timur. 

 

Isu tersebut sebelumnya sempat memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan industri komponen otomotif nasional serta potensi dampaknya terhadap tenaga kerja dan rantai pasok industri.

 

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, menjelaskan bahwa Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita telah memerintahkan Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) untuk melakukan verifikasi langsung terhadap informasi yang beredar.

 

“Pada hari Minggu sore tanggal 21 Juni 2026, Bapak Menteri Perindustrian telah memerintahkan Dirjen ILMATE untuk menelusuri kebenaran informasi relokasi perusahaan industri komponen otomotif dari Indonesia ke Vietnam," kata  Febri dalam keterangan resminya.

 

"Mempertimbangkan kehati-hatian dan sensifitas isu ini bagi industri dan investasi asing pada sektor industri otomotif Indonesia, maka pada hari ini kami menyampaikan temuan lapangannya pada publik,” ucapnya menambahkan.

 

Berdasarkan hasil penelusuran, PT JAI yang berlokasi di Kabupaten Pasuruan dan PT SAI di Kabupaten Mojokerto masih menjalankan aktivitas produksi secara normal. 

 

Kedua perusahaan juga tercatat aktif melaporkan kegiatan industrinya melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas).

 

Kemenperin juga telah memperoleh konfirmasi langsung dari manajemen perusahaan terkait isu yang berkembang.

 

“Berdasarkan hasil penelusuran kebenaran informasi ini, kami dari Kementerian Perindustrian sementara menyimpulkan bahwa pertama belum ada rencana relokasi fasilitas produksi PT. JAI dan PT. SAI dari Indonesia ke Vietnam," ujar Febri.

 

"Dan kedua tidak ada pengurangan tenaga kerja atau PHK pada dua perusahaan industri tersebut,” ucapnya.

 

Lebih lanjut, Kemenperin mengungkapkan bahwa pemberitaan mengenai relokasi tersebut justru menimbulkan dampak terhadap aktivitas bisnis kedua perusahaan. 

 

Sejumlah buyer dan supplier disebut mempertanyakan keberlanjutan kontrak kerja sama mereka setelah isu tersebut beredar luas.

 

“Pemberitaan masif terhadap relokasi dan PHK pada dua industri di Jatim ini telah berdampak terhadap rantai pasok industri otomotif dan iklim investasi manufaktur Indonesia terutama pada dua perusahaan industri komponen otomotif ini,” tutur Jubir Kemenperin.

 

Dari sisi investasi, kedua perusahaan tercatat memiliki kontribusi signifikan bagi industri nasional dengan total nilai investasi lebih dari Rp1,9 triliun. 

 

Angka tersebut mencerminkan komitmen jangka panjang perusahaan dalam memperkuat ekosistem manufaktur dan rantai pasok otomotif Indonesia.

 

Kinerja produksi keduanya juga masih menunjukkan tren positif. Sepanjang kuartal pertama 2026, PT SAI memproduksi sekitar 1,2 juta unit komponen, sementara PT JAI menghasilkan sekitar 1,6 juta unit komponen otomotif. 

 

Menariknya, seluruh hasil produksi tersebut ditujukan untuk pasar ekspor.

 

Dengan orientasi ekspor mencapai 100 persen, kedua perusahaan menjadi bagian penting dari rantai pasok global industri otomotif sekaligus berkontribusi terhadap kinerja ekspor manufaktur Indonesia.

 

Sebagai langkah antisipasi, Menteri Perindustrian juga menginstruksikan seluruh jajaran Kemenperin untuk terus memonitor kondisi industri secara berkala, termasuk menindaklanjuti setiap informasi terkait potensi penutupan pabrik maupun PHK.

 

“Bapak Menteri Perindustrian telah memerintahkan jajarannya untuk terus memonitor kinerja seluruh industri dan melakukan langkah mitigasi cepat dan terukur terhadap industri yang mengalami gangguan pada rantai pasok dan permintaan,” ujar Febri.

 

Pemerintah menegaskan akan terus menjaga iklim investasi yang kondusif, memastikan keberlanjutan produksi industri nasional, serta memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja di tengah dinamika industri otomotif global yang semakin kompetitif.

 

Berita Terkait

Kebakaran Hyundai Kona di Gresik, Begini Kronologi dan Respons Hyundai Kesempatan Langka! Suzuki Gelar Program Test Drive Berhadiah Fronx dan Burgman Street 125 EX Kenalan dengan AiMOGA, Robot Pintar Seperti Manusia Garapan Chery Isuzu Perkenalkan D-Max Rodeo Terbaru di GIICOMVEC 2026, Mobil Pekerja Keras Tambang Kecil-kecil Cabe Rawit, Honda Navi 2026 Motor Sport Dibekali Mesin V-Matic Kenalan dengan Fitur Canggih Yamaha NMAX TURBO, Touring Jadi Makin Asyik Kejutan Ramadhan, Yamaha Luncurkan Warna Special Edition Fazzio Hybrid Starry Night Keahlian Mekanik Motor Makin Terasah, Ini Daftar Jawara Suzuki Victorious Contest 2025
Berita ini 28 kali dibaca