Subsidi EV China Mulai Dipangkas, Harga Mobil Listrik Berpotensi Naik

Penulis - | Editor - Dicky Kurniawan

Selasa, 08 September 2026 13:14:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Subsidi EV China Mulai Dipangkas, Harga Mobil Listrik Berpotensi Naik

OTOMOTIFMEDIA.COM - China mulai mengurangi berbagai insentif untuk kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV). 

 

Kebijakan ini ditandai dengan berakhirnya pembebasan pajak konsumsi untuk baterai litium, yang berpotensi menambah biaya produksi dan harga kendaraan listrik.

 

Melansir laman Carnewschina, mulai 1 September 2026, baterai primer litium dan baterai isi ulang litium-ion dikenakan pajak konsumsi sebesar 2 persen.

 

Tarif tersebut akan naik menjadi 4 persen mulai 1 September 2027.

 

Kebijakan ini mengakhiri perlakuan pajak khusus yang selama lebih dari satu dekade membantu pertumbuhan industri baterai kendaraan listrik China. 

 

Sebelumnya, baterai biasa dikenakan pajak konsumsi 4 persen, sementara baterai litium-ion untuk kendaraan listrik memperoleh pengecualian.

 

Biaya Baterai Bisa Bertambah hingga Rp7 Juta

 

Dampak kebijakan tersebut mulai terlihat dari simulasi biaya baterai kendaraan listrik. 

 

Berdasarkan harga rata-rata sel baterai lithium iron phosphate (LFP) domestik berkapasitas 314 Ah pada Agustus 2026, yakni sekitar 0,365 yuan per Wh atau setara sekitar 0,072 dolar AS per Wh, tambahan pajak akan meningkatkan biaya produksi.

 

Sebagai gambaran, kendaraan energi baru dengan baterai berkapasitas 60 kWh diperkirakan mengalami kenaikan biaya sekitar 438 yuan atau 62 dolar AS ketika tarif pajak 2 persen berlaku.

 

Dengan asumsi kurs 1 dolar AS sekitar Rp16.500, tambahan tersebut setara kurang lebih Rp1,02 juta per kendaraan.

 

Saat tarif pajak naik menjadi 4 persen pada September 2027, tambahan biaya diperkirakan mencapai 876 yuan atau 125 dolar AS, setara sekitar Rp2,06 juta per kendaraan.

 

Angka tersebut merupakan tambahan biaya pada komponen baterai. 

 

Dampak akhirnya terhadap harga jual kendaraan tetap bergantung pada strategi produsen, biaya produksi lain, serta keputusan masing-masing merek dalam menyerap atau meneruskan kenaikan tersebut kepada konsumen.

 

Menariknya, tidak semua teknologi baterai akan terkena kebijakan serupa. 

 

Baterai sodium-ion, baterai solid-state, dan sel bahan bakar masih memperoleh pembebasan pajak konsumsi hingga 31 Desember 2028.

 

Kebijakan ini berpotensi mendorong produsen untuk mempercepat pengembangan teknologi baterai alternatif yang dinilai lebih efisien dan memiliki perlakuan pajak lebih menguntungkan.

 

Pengurangan Insentif Sudah Dimulai Sejak 2026

 

Pajak baterai bukan satu-satunya insentif yang mulai dikurangi. China juga telah mengubah skema pajak pembelian kendaraan energi baru sejak 1 Januari 2026.

 

Jika sebelumnya kendaraan energi baru memperoleh pembebasan pajak pembelian, kini konsumen hanya mendapatkan pengurangan sebesar 50 persen. 

 

Tarif efektifnya menjadi 5 persen, dengan batas pengurangan maksimal 15.000 yuan atau sekitar 2.200 dolar AS.

 

Dengan asumsi kurs 1 dolar AS sekitar Rp16.500, nilai pengurangan maksimal tersebut setara sekitar Rp36,3 juta.

 

Artinya, kendaraan energi baru dengan harga di bawah 300.000 yuan atau sekitar 44.700 dolar AS masih memiliki keuntungan pajak dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal. 

 

Namun, keuntungan tersebut tidak lagi sebesar ketika pembebasan pajak masih berlaku.

 

CarNewsChina memperkirakan insentif pajak pembelian ini berpotensi kembali dikurangi atau bahkan dihapus dalam beberapa tahun ke depan. 

 

Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa industri kendaraan listrik China mulai diarahkan untuk tumbuh dengan ketergantungan yang lebih kecil terhadap dukungan pemerintah.

 

Pajak Kendaraan dan Kapal Juga Akan Berubah

 

Penyesuaian berikutnya dijadwalkan berlaku mulai 1 Januari 2027. 

 

Kementerian Keuangan, Administrasi Perpajakan Negara, serta Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China telah mengumumkan pencabutan sejumlah perlakuan pajak kendaraan dan kapal.

 

Kebijakan tersebut mencakup penghapusan pengurangan pajak 50 persen untuk kendaraan hemat energi. 

 

Selain itu, pembebasan pajak untuk kendaraan komersial listrik berbasis baterai, kendaraan hibrida plug-in, kendaraan extended-range, dan kendaraan komersial berbahan bakar sel juga akan dihentikan.

 

Insentif tersebut sebelumnya telah berjalan selama sekitar 15 tahun.

 

Bagi pemilik kendaraan plug-in hybrid dan range extender, biaya tahunan diperkirakan meningkat sekitar 300 yuan, dari kisaran 360 yuan menjadi 660 yuan.

 

Nilai tersebut setara sekitar Rp700 ribu hingga Rp1,08 juta jika menggunakan asumsi kurs 1 yuan sekitar Rp2.400.

 

Sementara itu, mobil penumpang listrik murni diperkirakan tidak mengalami perubahan biaya tahunan dari kebijakan pajak kendaraan dan kapal tersebut.

 

Industri EV China Mulai Memasuki Fase Baru

 

Pengurangan insentif menunjukkan bahwa pasar kendaraan listrik China mulai memasuki fase yang berbeda. 

 

Setelah bertahun-tahun didorong melalui pembebasan pajak dan berbagai dukungan pemerintah, produsen kini dituntut untuk mempertahankan pertumbuhan melalui efisiensi biaya, inovasi teknologi, dan daya saing produk.

 

Bagi konsumen, perubahan ini dapat membuat sebagian kendaraan listrik menjadi sedikit lebih mahal. 

 

Namun, produsen masih memiliki sejumlah pilihan untuk menekan dampaknya, seperti meningkatkan efisiensi produksi, menggunakan baterai dengan biaya lebih rendah, atau mempercepat pengembangan teknologi yang masih memperoleh fasilitas pajak.

Berita Terkait

Mobil Mogok di Jalan Tol? Begini Cara Membaca Patok KM agar Petugas Cepat Menemukan Lokasi Mulai 15 September Isi Biosolar Wajib Tunjukkan STNK, Pertalite Menyusul Harga BBM Pertamina September 2026: Dexlite dan Pertamina Dex Naik, Pertamax Tetap Mobil Listrik NMC Bakal Dapat Insentif, Indonesia Kejar Nilai Tambah dari Nikel Harga Rp489 Juta, DFSK E5 Plus Mulai Goda Konsumen Sumatera Selatan Mobil Mogok atau Ban Bocor di Jalan? Ini Solusi Darurat yang Wajib Diketahui Pengendara Harga BBM Pertamina Turun per 1 Juli 2026, Pertamax Turbo Kini di Bawah Rp20 Ribu Mobil Diam Tapi Mesin Hidup, Boros BBM atau Mitos? Ini Faktanya
Berita ini 10 kali dibaca