OTOMOTIFMEDIA.COM – Transmisi manual masih menjadi salah satu fitur yang diidamkan para penggemar mobil sport, tetapi menghadirkannya kembali pada mobil modern ternyata bukan perkara sederhana.
Aston Martin bahkan menyebut tantangan terbesar bukan mendapatkan gearbox manual, melainkan membuat seluruh sistem elektronik kendaraan kompatibel dengan transmisi tersebut.
Melansir laman Carscoops, pernyataan itu disampaikan CEO Aston Martin, Adrian Hallmark, di tengah kembali populernya transmisi manual pada sejumlah mobil performa tinggi.
Tren tersebut terlihat dalam gelaran Monterey Car Week 2026. Sejumlah mobil baru seperti GMSV S1, McLaren McL 6GT, Spyker C8 Preliator XXV, dan Kode89 hadir dengan transmisi manual.
Namun, Aston Martin justru memperkenalkan Valen dengan transmisi otomatis delapan percepatan.
Padahal, mobil tersebut mengusung mesin V12 twin-turbo 5,2 liter yang menghasilkan 838 hp (625 kW/850 PS) dan torsi 1.000 Nm.
Akselerasi 0-96 km per jam diklaim hanya membutuhkan tiga detik, sedangkan kecepatan maksimumnya mencapai 344 km per jam.
Menurut Hallmark, Aston Martin sebenarnya memiliki sejarah panjang dalam penggunaan transmisi manual.
Persoalannya, teknologi tersebut diterapkan pada arsitektur kendaraan dan sistem elektronik generasi sebelumnya.
Kini, mobil modern menggunakan jauh lebih banyak sistem elektronik yang saling terintegrasi.
Karena itu, memasangkan gearbox manual ke platform baru membutuhkan pekerjaan tambahan.
"Masalah yang kami miliki adalah tidak mendapatkan gearbox manual, itu mendapatkan sistem elektronik dan dimodifikasi untuk dapat bekerja dengan kotak manual," ucap Hallmark.
Dengan kata lain, tantangan Aston Martin bukan sekadar menyediakan tuas persneling dan pedal kopling.
Sistem elektronik kendaraan harus mengetahui dan menyesuaikan diri dengan cara kerja transmisi manual.
ADAS Jadi Salah Satu Penghambat
Salah satu persoalan terbesar datang dari sistem bantuan pengemudi atau Advanced Driver Assistance Systems (ADAS).
Fitur seperti adaptive cruise control dan sistem mitigasi tabrakan dirancang untuk bekerja bersama karakter kendaraan dengan transmisi otomatis.
Ketika transmisi manual digunakan, integrasi antara sistem tersebut dan pengemudi menjadi lebih kompleks.
Hallmark menyebut modifikasi atau bahkan menghilangkan sejumlah fitur tersebut bisa membutuhkan biaya lebih besar dibandingkan mengembangkan transmisi manual itu sendiri.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi produsen yang ingin mempertahankan karakter berkendara tradisional sekaligus memenuhi tuntutan teknologi kendaraan modern.
Toyota dan Honda Membuktikan Manual Masih Bisa
Meski demikian, bukan berarti transmisi manual mustahil dipadukan dengan teknologi keselamatan modern.
Toyota GR86, misalnya, tetap tersedia dengan transmisi manual sekaligus adaptive cruise control.
Honda Civic Type R juga menjadi contoh mobil manual yang tetap mengusung teknologi bantuan pengemudi.
Artinya, secara teknis integrasi tersebut memungkinkan. Persoalannya kembali kepada biaya pengembangan dan jumlah konsumen yang menginginkan transmisi manual.
Jika permintaan pasar terlalu kecil, produsen tentu akan berpikir ulang sebelum mengalokasikan investasi besar untuk mengembangkan sistem tersebut.
Aston Martin Bisa Pilih "Manual Palsu"
Menariknya, Aston Martin juga membuka kemungkinan menggunakan pendekatan yang lebih unik.
Hallmark menyinggung Ferrari 12Cilindri Manuale, yang sebenarnya tidak menggunakan gearbox manual konvensional.
Mobil tersebut tetap memakai transmisi otomatis dual-clutch delapan percepatan, tetapi dibuat seolah-olah seperti mobil manual dengan shifter enam percepatan dan pedal kopling.
Konsep seperti ini memungkinkan produsen menghadirkan sensasi mengemudi manual tanpa harus melakukan perubahan besar terhadap arsitektur kendaraan.
Hallmark mengisyaratkan Aston Martin berpotensi menggunakan pendekatan serupa pada masa depan, meski hingga kini belum ada keputusan resmi.







