OTOMOTIFMEDIA.COM – CEO Lamborghini Stephan Winkelmann menilai kemunculan supercar berperforma tinggi asal China belum menjadi ancaman serius bagi merek asal Italia tersebut.
Menurutnya, meski produsen China mampu menciptakan mobil listrik dengan tenaga ekstrem, ada satu elemen yang sulit ditiru, yakni suara dan emosi dari mesin pembakaran internal.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri otomotif China memang tidak lagi hanya bermain di segmen mobil massal.
Sejumlah merek mulai berani memasuki ranah mobil performa tinggi, bahkan menghadirkan supercar dengan teknologi yang mampu menghasilkan tenaga lebih dari 1.000 hp.
Salah satu contohnya adalah YangWang U9 yang mencatatkan kecepatan tinggi sebagai salah satu mobil produksi terbaru.
Sementara Denza menghadirkan Z dengan konfigurasi tiga motor listrik yang mampu menghasilkan tenaga hingga 1.582 hp.
Namun, bagi Lamborghini, angka tenaga bukan satu-satunya ukuran sebuah supercar.
Winkelmann justru melihat karakter emosional sebagai pembeda utama antara mobil-mobil tersebut dengan produk Lamborghini.
"Kami tidak melihat ini sebagai ancaman, karena mereka membuat mobil listrik," kata Winkelmann, dikutip dari laman Carscoops.
Menurutnya, keputusan Lamborghini untuk tidak buru-buru meninggalkan mesin pembakaran juga memiliki alasan tersendiri.
Ia menilai karakter mobil tidak hanya ditentukan oleh performa di atas kertas.
"Jika kita mengatakan kita tidak membuat mobil listrik karena suatu alasan, maka ada juga ide di balik bagaimana kita memandang pesaing Cina atau produsen Cina kita," ujarnya.
Winkelmann kemudian menegaskan bahwa produsen China masih memiliki pekerjaan rumah untuk menyamai sensasi yang ditawarkan supercar Lamborghini.
Merek-merek tersebut dinilai belum mampu bersaing. "Pada kinerja mobil kami, suara, dan emosi," ucapnya.
Pernyataan Winkelmann menjadi menarik di tengah perubahan cepat industri supercar.
Mobil listrik memungkinkan produsen mendapatkan akselerasi brutal tanpa harus mengandalkan mesin berkapasitas besar.
Namun, bagi Lamborghini, pengalaman berkendara tidak berhenti pada seberapa cepat mobil melesat dari 0-100 km per jam.
Suara mesin, respons throttle, perpindahan tenaga, hingga sensasi mekanis yang dirasakan pengemudi menjadi bagian dari pengalaman yang selama puluhan tahun melekat pada supercar.
Karena itu, meski sebuah EV mampu menghasilkan tenaga jauh lebih besar, Lamborghini melihat ada aspek emosional yang tidak mudah diterjemahkan menjadi angka.
Persoalannya, lanskap tersebut mulai berubah.
GWM Siapkan Supercar V8 untuk Menantang Ferrari
Sinyal bahwa produsen China mulai memahami pentingnya karakter mesin pembakaran datang dari Great Wall Motors (GWM).
GWM diketahui tengah mengembangkan supercar bermesin tengah yang justru tidak sepenuhnya mengandalkan tenaga listrik.
Mobil tersebut diproyeksikan menggunakan mesin V8 4,0 liter twin-turbocharged plug-in hybrid.
Konfigurasi tersebut menggabungkan karakter mesin pembakaran dengan kemampuan elektrifikasi.
Tak berhenti di powertrain, GWM juga menyiapkan konstruksi monokok berbahan serat karbon untuk menekan bobot kendaraan.
Yang membuat proyek ini semakin menarik, GWM sebelumnya menyatakan supercar tersebut akan diarahkan untuk berhadapan langsung dengan Ferrari SF90 Stradale.
Jika proyek tersebut berhasil diwujudkan dengan performa dan karakter sesuai ekspektasi, peta persaingan supercar global bisa berubah.
Bukan lagi sekadar pertarungan antara supercar Eropa dengan mobil listrik China, tetapi mulai masuk ke arena yang lebih sensitif, yakni siapa yang mampu mempertahankan emosi mesin pembakaran sambil menggabungkannya dengan teknologi elektrifikasi.
Dan di titik inilah keyakinan Lamborghini bakal benar-benar diuji.
Untuk saat ini, Winkelmann masih percaya suara dan emosi mesin pembakaran menjadi keunggulan yang sulit ditandingi.







