Otomotifmedia.com - Minat masyarakat terhadap mobil bekas terus meningkat, terbukti jelang momen mudik Lebaran kemarin.
Di tengah tren tersebut, balai lelang seperti JBA makin menjadi alternatif menarik, bukan hanya karena pilihan unit yang melimpah, tetapi juga kemudahan akses yang kini serba digital.
Hal ini disampaikan oleh Monika Erika Iswari, selaku Marketing & Digital Sales Department Head JBA Indonesia, dalam kesempatan podcast Ngegas Otomotif.
Monika menjelaskan bahwa proses lelang saat ini sudah bisa diikuti dari mana saja, bahkan tanpa harus datang langsung ke lokasi.
“Kalau lagi males, pengen sambil ngopi-ngopi, di sini bisa sambil ikut lelang. Jadi lelang dari kafe juga bisa,” terang Monika di podcast Ngegas Otomotif.
Kemudahan ini didukung sistem digital yang memungkinkan peserta melakukan registrasi, hingga bidding secara online melalui website maupun aplikasi.
Namun demikian, Monika tetap menyarankan calon pembeli untuk datang langsung saat sesi open house guna memastikan kondisi unit.
“Kami justru menyarankan untuk open house, untuk cek unit. Jadi nggak beli kucing dalam karung. Teman-teman bisa nyalain mesin mobilnya, bisa buka-buka segala macam,” katanya merinci.
Dalam setiap unit yang dilelang, JBA juga menyertakan Lembar Data Kendaraan (LDK) sebagai panduan kondisi mobil.
Dokumen LDK juga memuat hasil inspeksi detail serta grading kendaraan.
“LDK itu ada grade-nya, jadi A, B, C sampai F. Kita inspeksi mesin, eksterior, dan interior. Itu kita cek lebih dari 140 titik,” jelas Monika.
Meski demikian, ia menyebut bahwa mayoritas unit yang layak pakai berada di grade B hingga C, sementara grade A umumnya jarang ditemukan karena identik dengan kendaraan baru.
Selain transparansi, faktor lain yang membuat balai lelang diminati adalah banyaknya pilihan kendaraan dalam satu waktu.
Bahkan dalam satu hari, jumlah unit yang dilelang di JBA bisa mencapai ribuan.
“Kita pernah melelang di satu cabang sehari 1.500 mobil. Jadi pilihannya banyak banget, dari LCGC sampai premium,” bebernya.
BISA TITIP LELANG
Tak hanya sebagai tempat membeli, JBA juga membuka peluang bagi individu yang ingin menjual kendaraannya melalui mekanisme lelang.
“Kita nggak cuma buat perusahaan. Kita juga buka untuk perorangan. Tinggal bawa unit ke cabang, nanti kita inspeksi dan bantu jualkan,” tutur Monika.
Dari sisi harga, ia menegaskan bahwa lelang bukan sekadar soal harga murah, melainkan kompetitif dan mengikuti dinamika pasar.
“Kita nyebutnya bukan murah, tapi kompetitif. Karena balik lagi ke tren pasar,” jelasnya.
Namun, Monika mengingatkan agar peserta tetap rasional saat mengikuti proses bidding.
Euforia lelang kerap membuat peserta terpancing untuk menawar di luar kemampuan finansial.
“Yang paling penting adalah tahu dulu budgetnya berapa. Karena kadang-kadang end user suka kebawa panas. Itu yang akhirnya jadi salah kaprah,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya memeriksa dokumen kendaraan sebelum ikut lelang.
Dalam praktiknya, BPKB menjadi syarat utama, sementara STNK tidak selalu tersedia dan akan diinformasikan dalam catatan unit.
“Kalau dokumen, kita harus ada BPKB. Kalau STNK nggak wajib. Itu nanti kita tulis di notes,” katanya.
Terkait isu manipulasi odometer, Monika memastikan bahwa JBA tidak melakukan perubahan apapun terhadap kondisi kendaraan.
“Kita tidak bisa merekondisi atau mengubah kondisi kendaraan. Kita hanya inspeksi secara visual, yang dilihat, didengar, dan diraba,” imbuhnya.
Sepanjang 2025, JBA mencatat lebih dari 59.000 unit mobil terjual melalui lelanG JBA.
Angka tersebut menunjukkan tingginya aktivitas lelang, serta meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem jual beli berbasis transparansi.
Lewat kombinasi kemudahan digital, pilihan unit yang beragam, dan proses yang terbuka, lelang kendaraan kini bukan lagi sesuatu yang rumit.
Bahkan bisa dilakukan sambil nyeruput secangkir kopi dari rumah maupun kafe.