OTOMOTIFMEDIA.COM – Teknologi hybrid ternyata tidak hanya soal menggabungkan mesin bensin dan motor listrik.
Chery memiliki tiga pendekatan elektrifikasi melalui Chery Super Hybrid (CSH), yakni HEV, PHEV, dan REEV, yang masing-masing memiliki mekanisme kerja berbeda.
Perbedaan tersebut menjadi menarik setelah Chery J6T CSH hadir di Indonesia dengan mengusung teknologi Range-Extended Electric Vehicle (REEV).
SUV ini mengandalkan motor listrik sebagai penggerak roda, sementara mesin bensin bertugas menghasilkan energi listrik ketika dibutuhkan.
Dengan konfigurasi tersebut, J6T CSH diklaim mampu menawarkan sensasi berkendara elektrik sekaligus daya jelajah gabungan lebih dari 1.000 kilometer.
“Kehadiran J6T CSH memperluas pilihan tersebut melalui pengalaman berkendara berbasis motor listrik dengan fleksibilitas untuk perjalanan lebih jauh,” ujar Budi Darmawan Jantania, Vice Country Director Chery Business Unit.
HEV, PHEV dan REEV Punya Cara Kerja Berbeda
Dalam keluarga CSH, HEV (Hybrid Electric Vehicle) menjadi pilihan yang paling sederhana dalam hal pengisian energi.
Mesin bensin dan motor listrik dapat bekerja bergantian maupun secara bersamaan.
Baterai HEV mendapatkan energi dari sistem regeneratif dan mekanisme mesin sehingga tidak membutuhkan pengisian dari sumber listrik eksternal.
Karakter tersebut membuat HEV cocok bagi pengguna yang ingin mendapatkan efisiensi lebih baik tanpa harus mengubah kebiasaan dengan mencari fasilitas pengisian daya.
Berbeda dengan HEV, PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) memiliki baterai yang lebih besar dan dapat diisi menggunakan sumber listrik eksternal.
Kapasitas baterai yang lebih besar memungkinkan mobil digunakan dengan tenaga listrik murni untuk jarak tertentu.
Setelah energi listrik berkurang, mesin bensin dapat mengambil alih untuk mendukung perjalanan yang lebih jauh.
Sementara itu, REEV mengambil pendekatan berbeda. Pada sistem ini, roda digerakkan sepenuhnya oleh motor listrik.
Mesin bensin tidak terhubung secara mekanis sebagai penggerak roda, melainkan digunakan sebagai generator untuk menghasilkan tambahan energi listrik.
Dengan kata lain, sensasi berkendaranya tetap mengandalkan karakter motor listrik, tetapi pengguna tidak sepenuhnya bergantung pada kapasitas baterai ketika melakukan perjalanan jauh.
Begini Cara Kerja REEV di J6T CSH
Pada Chery J6T CSH, motor listrik menjadi sumber tenaga utama yang menggerakkan roda.
Saat energi baterai masih mencukupi, kendaraan dapat melaju menggunakan tenaga listrik.
Ketika kapasitas baterai mencapai batas tertentu, mesin bensin akan aktif untuk menggerakkan generator dan menyuplai energi listrik.
Mesin tersebut tidak bekerja seperti mobil hybrid konvensional yang secara langsung menggerakkan roda.
Konsep inilah yang membuat REEV menawarkan perpaduan antara karakter kendaraan listrik dan fleksibilitas kendaraan bermesin bensin.
Salah satu keuntungan sistem REEV pada J6T CSH adalah kemampuan berkendara menggunakan tenaga listrik murni hingga 190 kilometer berdasarkan metode NEDC.
Jarak tersebut memberikan ruang yang cukup untuk kebutuhan mobilitas harian tanpa harus mengandalkan mesin bensin sepanjang perjalanan.
Ketika digunakan untuk perjalanan lebih jauh, mesin dan generator dapat menyediakan energi tambahan.
Total daya jelajah gabungan J6T CSH diklaim mencapai lebih dari 1.000 kilometer.
Bagi pengguna yang gemar melakukan perjalanan lintas kota atau touring, karakter tersebut menjadi salah satu nilai jual REEV karena kekhawatiran terhadap keterbatasan infrastruktur pengisian daya dapat ditekan.
J6T CSH juga bukan sekadar mengandalkan sistem range extender untuk mengejar efisiensi.
Chery membekalinya dengan three-motor architecture, yang terdiri dari dua motor listrik untuk sistem intelligent All-Wheel Drive (iWD) dan satu motor-generator yang terhubung dengan mesin 1.5L Turbo.
Kombinasi tersebut menghasilkan tenaga hingga 428 PS dan torsi maksimum 505 Nm.
Performanya pun cukup agresif untuk sebuah SUV elektrifikasi. Chery mengklaim J6T CSH mampu berakselerasi dari 0-100 km per jam dalam 5,5 detik.
Sistem iWD juga memungkinkan distribusi tenaga dilakukan secara independen dan responsif pada masing-masing sisi kendaraan.
Teknologi elektrifikasi pada J6T CSH juga dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan manuver.
Mobil ini memiliki Tank Turn Feature atau Turn Pro Function, yang memungkinkan kendaraan melakukan putaran dengan radius sangat minim.
Fitur tersebut memanfaatkan konfigurasi dua motor listrik yang bekerja pada masing-masing sisi sistem penggerak.
Distribusi tenaga yang dapat dikontrol secara independen memungkinkan J6T CSH melakukan manuver yang sulit dilakukan kendaraan konvensional.
Kemampuan tersebut tidak hanya berguna ketika bermanuver di area sempit, tetapi juga mendukung penggunaan di medan off-road.
Untuk menyesuaikan karakter kendaraan dengan berbagai kondisi jalan, J6T CSH dilengkapi 8+1 mode berkendara.
Sistem iWD bekerja mengatur distribusi tenaga sesuai kondisi yang dihadapi kendaraan.
Sementara itu, penggunaan H-arm aluminium suspension ditujukan untuk membantu menjaga kestabilan sekaligus kenyamanan ketika melewati permukaan jalan yang tidak rata.







