Otomotifmedia.com - Di tengah dominasi globalnya sebagai produsen kendaraan listrik terbesar, BYD justru menghadapi tekanan serius di pasar domestik.
Melansir laman Carscoops, Senin, 4 Mei 2026, pada kuartal pertama 2026, perusahaan ini mencatat penurunan laba hingga 55,4 persen secara tahunan, menjadi 4,09 miliar yuan atau sekitar Rp 10,3 triliun.
Penurunan tajam ini terjadi meskipun volume penjualan tetap tinggi. Sepanjang periode tersebut, BYD berhasil menjual 700.463 unit kendaraan energi baru (NEV), termasuk mobil listrik murni dan plug-in hybrid.
Namun, angka tersebut turun sekitar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus jauh di bawah capaian kuartal sebelumnya.
Dari sisi pendapatan, BYD juga mencatat kontraksi hampir 12 persen menjadi 150,2 miliar yuan.
Ini menjadi penurunan kuartalan ketiga secara berturut-turut dan level terendah sejak pertengahan 2024.
Pasar Domestik Melemah, Perang Harga Makin Menekan
Tekanan terbesar datang dari pasar China yang kini semakin kompetitif.
Perang harga antar produsen kendaraan listrik membuat margin keuntungan tergerus, bahkan bagi pemain sebesar BYD.
Selain itu, kebijakan pemerintah turut memengaruhi dinamika pasar.
Insentif pajak untuk kendaraan energi baru yang sebelumnya penuh pada 2024–2025, kini dipangkas setengahnya untuk periode 2026–2027, dengan batas maksimal 15.000 yuan (Rp 38 jutaan) per unit.
Perubahan ini memicu lonjakan pembelian di akhir 2025, namun berdampak pada melemahnya permintaan di awal 2026.
Penjualan domestik pun tercatat mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir.
Ekspor Jadi Penyelamat, Tapi Belum Cukup
Di tengah pelemahan pasar dalam negeri, BYD mulai mengandalkan ekspansi global sebagai penopang pertumbuhan.
Perusahaan menargetkan pengiriman lebih dari 1,5 juta unit ke pasar internasional sepanjang tahun ini.
Langkah ini juga diiringi strategi naik kelas ke segmen premium.
Dalam ajang Beijing Auto Show 2026, BYD memperkenalkan model baru di segmen atas, termasuk SUV listrik full-size “Datang” (Great Tang).
Mobil anyar itu dipasarkan dengan harga mulai 250.000 yuan (Rp 600 jutaan), yang langsung mengantongi lebih dari 30.000 pemesanan di hari pertama.
Strategi ini menjadi upaya BYD untuk keluar dari tekanan perang harga di segmen entry-level, sekaligus menjaga profitabilitas jangka panjang.
Teknologi dan Momentum Jadi Penentu
Selain ekspansi pasar, BYD juga memperkuat fokus pada inovasi teknologi, termasuk peningkatan kecepatan pengisian daya dan fitur kendaraan pintar.
Langkah ini ditujukan untuk menarik konsumen yang masih ragu beralih dari kendaraan berbahan bakar konvensional.
Meski demikian, posisi BYD saat ini berada di titik krusial.
Kinerja beberapa kuartal ke depan akan sangat ditentukan oleh dua faktor utama, yakni pemulihan permintaan domestik dan agresivitas ekspansi global.
Di tengah tekanan margin dan perubahan pasar, pertanyaan besarnya bukan lagi soal volume penjualan—melainkan apakah BYD mampu mempertahankan profit di era perang harga kendaraan listrik.







