China Luncurkan Hampir 3 Mobil Listrik Sehari, CATL Ingatkan Risiko Cacat Baterai

Penulis - | Editor - Dicky Kurniawan

Senin, 14 September 2026 08:05:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

China Luncurkan Hampir 3 Mobil Listrik Sehari, CATL Ingatkan Risiko Cacat Baterai

OTOMOTIFMEDIA.COM - China meluncurkan lebih dari 600 model kendaraan baru sepanjang 2026, atau rata-rata hampir tiga model setiap hari. 

 

Di tengah cepatnya siklus pengembangan dan persaingan harga tersebut, CATL memperingatkan bahwa kualitas baterai menjadi tantangan yang tidak boleh diabaikan.

 

Peringatan itu disampaikan Ketua Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), Robin Zeng, dalam pidato utama pada Konferensi Baterai Tenaga Dunia 2026 di Yibin, Provinsi Sichuan, pada 3 September 2026.

 

Menurut Zeng, waktu validasi kendaraan yang semakin singkat untuk mengejar kecepatan peluncuran telah berkontribusi terhadap sejumlah kasus kegagalan baterai dalam satu batch produksi. 

 

Namun, ia tidak menyebutkan merek kendaraan maupun pemasok baterai yang diduga terlibat.

 

Perang Harga Menambah Tekanan Industri

 

Melansir laman Carnewschina, peringatan CATL muncul ketika pasar kendaraan listrik China masih menghadapi tekanan harga. 

 

Data industri yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan harga transaksi sejumlah mobil listrik massal mengalami penurunan pada paruh pertama 2026.

 

Pada saat yang sama, harga sel baterai lithium iron phosphate (LFP) dilaporkan berada di bawah 0,35 yuan per Wh atau sekitar 0,049 dolar AS per Wh. 

 

Dengan asumsi kurs 1 dolar AS sekitar Rp16.500, angka tersebut setara kurang dari Rp808 per Wh.

 

Tekanan harga dan biaya produksi yang semakin ketat membuat produsen kendaraan serta pemasok baterai harus mencari efisiensi. 

 

Namun, penurunan harga sel dan kasus kegagalan baterai tidak secara otomatis membuktikan adanya hubungan sebab-akibat. 

 

Keduanya menjadi konteks yang menunjukkan tantangan industri, bukan bukti bahwa satu faktor tertentu menjadi penyebab langsung.

 

Kasus Kualitas Baterai Pernah Terjadi

 

China sebelumnya juga menghadapi sejumlah perselisihan dan masalah kualitas baterai yang melibatkan produsen kendaraan serta pemasok komponen.

 

Pada Desember 2025, anak perusahaan Geely, Viridi E-Mobility Technology, menggugat produsen baterai Sunwoda. 

 

Gugatan tersebut menuduhkan adanya cacat kualitas pada sel yang dipasok antara Juni 2021 dan Desember 2023, dengan nilai tuntutan 2,31 miliar yuan atau sekitar 323 juta dolar AS.

 

Perkara itu kemudian diselesaikan. Sunwoda setuju membayar 608 juta yuan atau sekitar 89 juta dolar AS, setelah memperhitungkan jumlah yang telah ditanggung sebelumnya. 

 

Dengan asumsi kurs 1 dolar AS sekitar Rp16.500, nilai penyelesaian tersebut setara sekitar Rp1,47 triliun.

 

Kasus lain melibatkan sel baterai CALB yang dilaporkan berdampak pada sekitar 213.000 kendaraan GAC Aion. 

 

Keluhan yang muncul mencakup pembengkakan baterai, kehilangan daya, dan gangguan lainnya.

 

Masalah tersebut dikenal dengan istilah kontroversi “baterai pisang” karena sejumlah sel yang terdampak dilaporkan mengalami perubahan bentuk. 

 

CALB kemudian mengumumkan reformasi kualitas dan peningkatan inspeksi.

 

Satu Sel Bermasalah Bisa Membatasi Kinerja Paket Baterai

 

Zeng menjelaskan bahwa standar cacat konvensional berbasis PPM atau parts per million dinilai belum cukup untuk produksi baterai kendaraan listrik dalam skala besar.

 

Paket baterai kendaraan listrik terdiri dari banyak sel yang dirangkai secara seri dan paralel. 

 

Dalam konfigurasi tersebut, kinerja paket dapat dipengaruhi oleh sel dengan kapasitas paling rendah atau impedansi paling tinggi.

 

Efek ini dikenal sebagai efek laras. Seperti satu bagian terlemah yang membatasi kemampuan keseluruhan sistem, satu sel bermasalah dapat memengaruhi jangkauan operasional, perilaku pengisian daya, dan stabilitas termal paket baterai.

 

CATL menyebut target kontrol internalnya berada pada tingkat tidak lebih dari satu cacat untuk setiap satu miliar sel atau 1 PPB. 

 

Sebagai perbandingan, tingkat cacat 1 PPM berarti terdapat kemungkinan hingga 1.000 sel cacat dalam setiap satu miliar sel yang diproduksi.

 

Namun, angka 1 PPB tersebut merupakan target pengendalian teknik dan produksi internal CATL, bukan tingkat kegagalan armada yang telah diaudit secara independen.

 

Untuk mengantisipasi kegagalan yang sulit terdeteksi, CATL memiliki kelompok internal yang disebut Duikangzu atau “kelompok lawan”.

 

Tim tersebut terdiri dari personel dari berbagai disiplin, termasuk elektrokimia, teknik mesin, dan kecerdasan buatan. 

 

Tugasnya adalah mencari potensi kegagalan laten serta menguji sistem baterai melalui kondisi ekstrem dan skenario kerusakan.

 

Zeng mengatakan kelompok ini memiliki kewenangan veto terhadap tonggak proyek baterai dan pengiriman yang terkait. Meski demikian, CATL tidak mengungkapkan struktur pelaporan organisasi tersebut.

 

Produksi Besar Membuat Kontrol Kualitas Semakin Penting

 

Peringatan tersebut menjadi relevan karena produsen baterai China menyumbang lebih dari 70 persen volume instalasi baterai kendaraan listrik global.

 

SNE Research mencatat instalasi baterai kendaraan listrik global mencapai 608 GWh pada paruh pertama 2026. 

 

Pemasok asal China juga menempati tujuh dari 10 posisi teratas dalam daftar pemasok baterai global.

 

Pada skala produksi sebesar itu, tingkat cacat yang kecil sekalipun dapat berubah menjadi jumlah sel yang besar. 

 

Meski begitu, sel yang bermasalah dalam proses produksi tidak selalu berujung pada kegagalan di jalan karena masih terdapat inspeksi tambahan, sistem manajemen baterai, serta pengendalian pada tingkat paket.

 

CATL juga menekankan pentingnya membedakan keandalan sel dan keselamatan kendaraan secara keseluruhan. 

 

Pengujian terhadap satu sel, seperti uji penetrasi paku, dilakukan dalam kondisi laboratorium terkontrol dan tidak otomatis menggambarkan kinerja paket baterai ketika kendaraan mengalami tabrakan atau kerusakan sistem pendingin.

 

Pada akhirnya, komentar Robin Zeng berpusat pada satu pertanyaan: apakah siklus pengembangan mobil listrik yang semakin cepat masih memberikan waktu yang cukup untuk menemukan cacat baterai sebelum kendaraan diproduksi massal.

Berita Terkait

Mobil Mogok di Jalan Tol? Begini Cara Membaca Patok KM agar Petugas Cepat Menemukan Lokasi 3 Kamera ETLE Kini Terpasang di Cibinong, Ini Lokasinya Mobil Listrik NMC Bakal Dapat Insentif, Indonesia Kejar Nilai Tambah dari Nikel Hampir Tembus 2 Juta Unit, Kia Sportage dan Seltos Jadi Mesin Penjualan Global Pernah Laku 767 Ribu Unit, Chevrolet Kini Setop Jual Mobil Baru di China Mobil Mogok atau Ban Bocor di Jalan? Ini Solusi Darurat yang Wajib Diketahui Pengendara Meski Dibanderol Rp9,5 Miliar, Ferrari Luce Langsung Sold Out di China Mobil Diam Tapi Mesin Hidup, Boros BBM atau Mitos? Ini Faktanya
Berita ini 5 kali dibaca