OTOMOTIFMEDIA.COM – Chevrolet resmi menghentikan penjualan mobil baru di pasar China setelah beroperasi selama hampir 21 tahun.
Keputusan General Motors (GM) ini menandai berakhirnya perjalanan merek asal Amerika Serikat tersebut di salah satu pasar otomotif terbesar dunia.
Yang menarik, GM tidak sepenuhnya meninggalkan China.
Melansir laman Carnewschina, produksi Chevrolet tetap berjalan melalui usaha patungan SAIC-GM, tetapi orientasinya kini berubah.
Kendaraan Chevrolet yang diproduksi di China akan lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor global di luar Amerika Serikat.
Perubahan strategi ini terjadi setelah performa Chevrolet di China merosot tajam.
Merek tersebut pernah mencatat penjualan tahunan sekitar 767.000 unit pada 2014, tetapi pada 2025 volumenya jatuh menjadi kurang dari 9.000 unit.
Artinya, dalam sekitar satu dekade Chevrolet kehilangan lebih dari 98 persen volume penjualan tahunannya di China.
GM China mengonfirmasi perubahan tersebut kepada National Business Daily pada 10 Agustus 2026.
Perusahaan menyebut lini produk Chevrolet saat ini dinilai lebih sesuai untuk memenuhi permintaan dari pasar ekspor.
John Roth, Wakil Presiden Eksekutif GM Global sekaligus Presiden GM China, melihat perubahan strategi tersebut sebagai peluang baru bagi operasi GM di China.
"Kami melihat peluang besar untuk bergerak melampaui Cina dan menghadapi dunia," kata Roth.
Ia menjelaskan bahwa kemampuan SAIC-GM dalam bidang rekayasa, manufaktur, dan kualitas akan dimanfaatkan untuk memasok kendaraan ke sejumlah pasar internasional.
Wilayah yang menjadi sasaran mencakup Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan, Meksiko, hingga kawasan Asia-Pasifik. Strategi tersebut juga akan ditopang jaringan penjualan dan purna jual global milik GM.
Produksi Chevrolet Tetap Berjalan di China
Meski penjualan retail Chevrolet dihentikan, fasilitas produksi di China tidak ikut ditutup.
SAIC-GM tetap akan memproduksi kendaraan Chevrolet untuk kebutuhan ekspor.
Data China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan ekspor Chevrolet dari China mencapai 6.930 unit sepanjang semester pertama 2026, meningkat 6,9 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan fungsi China bagi Chevrolet.
Jika sebelumnya negara tersebut menjadi salah satu pasar utama merek, kini China diposisikan sebagai basis produksi yang dapat mendukung ekspansi Chevrolet ke berbagai negara.
Keputusan ini juga tidak berdiri sendiri. GM dan SAIC baru saja memperpanjang kerja sama strategis melalui SAIC-GM hingga 2047.
Perpanjangan selama 20 tahun tersebut menjadi salah satu kerja sama usaha patungan dengan periode terpanjang di China.
Kedua perusahaan juga berencana meluncurkan sedikitnya 30 model kendaraan energi baru (NEV) hingga 2030. Fokus elektrifikasi terutama akan diarahkan pada merek Cadillac dan Buick.
Chevrolet Pernah Jadi Raja di China
Keputusan keluar dari pasar retail China menjadi perubahan drastis bagi Chevrolet. Merek tersebut pertama kali resmi hadir di Negeri Tirai Bambu pada 2005 dan sempat menikmati masa keemasan.
Puncaknya terjadi pada 2014 ketika penjualan retail Chevrolet mencapai sekitar 767.000 unit dalam setahun.
Model seperti Cruze menjadi salah satu produk yang membantu mengangkat popularitas Chevrolet di China.
Namun, situasi mulai berubah sekitar 2018. Chevrolet menghadapi tekanan dari sejumlah faktor, mulai dari kontroversi penggunaan mesin tiga silinder, semakin agresifnya merek otomotif lokal China, hingga percepatan adopsi kendaraan energi baru atau NEV.
Tekanan tersebut membuat penjualan Chevrolet terus menyusut.
Pada 2025, volume penjualan tahunannya bahkan sudah berada di bawah 9.000 unit. Jarak dengan rekor penjualan 2014 pun menjadi sangat lebar.
Nasib Pemilik Chevrolet di China Tetap Dijamin
Bagi lebih dari 7,5 juta pemilik Chevrolet di China, keluarnya merek tersebut dari pasar retail tidak berarti layanan purna jual ikut berhenti.
GM memastikan jaringan dealer tetap beroperasi dan layanan purna jual akan terus diberikan.
Pasokan suku cadang serta kebutuhan perawatan kendaraan juga disebut tidak akan terpengaruh oleh keputusan penghentian penjualan mobil baru.
Dengan strategi baru tersebut, Chevrolet memang tidak lagi mengejar konsumen China melalui jaringan retail.
Namun, merek tersebut masih akan memanfaatkan China sebagai basis manufaktur untuk membidik konsumen di berbagai belahan dunia.







