ALVA Buka-bukaan Soal Tantangan TKDN dan Rantai Pasok Motor Listrik

Penulis - | Editor - Dicky Kurniawan

Sabtu, 26 September 2026 13:00:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ALVA Buka-bukaan Soal Tantangan TKDN dan Rantai Pasok Motor Listrik

OTOMOTIFMEDIA.COM - Pengembangan industri motor listrik di Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan memproduksi kendaraan. 

 

Kesiapan pemasok, peningkatan TKDN, infrastruktur pengisian daya, hingga dukungan kawasan industri menjadi faktor penting yang ikut menentukan pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik.

 

Hal tersebut disampaikan PT Ilectra Motor Group (IMG) melalui ALVA saat menerima kunjungan kerja Panitia Kerja (Panja) Rancangan Undang-Undang (RUU) Kawasan Industri Komisi VII DPR RI di Kawasan Industri Lippo Cikarang, Kabupaten Bekasi, pada 23 September 2026.

 

Dalam kunjungan tersebut, ALVA menyampaikan pengalaman selama membangun industri kendaraan listrik roda dua di Indonesia, termasuk mengenai manufaktur, rantai pasok lokal, TKDN, teknologi, hingga infrastruktur pendukung.

 

Chief Executive Officer ALVA Purbaja Pantja mengatakan, pertumbuhan kendaraan listrik membutuhkan ekosistem yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.

 

"Pengembangan industri kendaraan listrik tidak hanya tentang kemampuan memproduksi kendaraan, tetapi juga bagaimana kita membangun ekosistem yang mendukung pertumbuhannya secara berkelanjutan," kata Purbaja,

 

"Melalui kesempatan ini, kami berbagi pengalaman 5 tahun ini ALVA sebagai pelaku industri, termasuk bagaimana kawasan industri dapat berperan dalam memperkuat manufaktur, mengembangkan rantai pasok lokal, dan meningkatkan daya saing industri kendaraan listrik Indonesia," ujarnya menambahkan.

 

Sejak 2021, IMG melalui ALVA mengembangkan ekosistem kendaraan listrik yang mencakup riset dan pengembangan, manufaktur, kepemilikan IP lokal, distribusi, infrastruktur pengisian daya, hingga layanan purnajual.

 

Fasilitas manufaktur ALVA di Cikarang memiliki kapasitas produksi hingga 100.000 unit per tahun. 

 

Pabrik tersebut juga menerapkan pendekatan smart manufacturing berbasis Industry 4.0 serta didukung standar ISO 9001:2015, ISO 14001:2015 dan asesmen INDI 4.0 dari Kementerian Perindustrian.

 

ALVA juga mencatat apresiasi dari pemerintah melalui penghargaan Best Design pada Good Design Indonesia Award 2026 yang diberikan Kementerian Perdagangan untuk ALVA N3.

 

Selain desain, ALVA memperoleh penghargaan Best Charging Station Provider 2-Wheeler Category dari Kementerian ESDM atas kontribusinya dalam pengembangan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik roda dua.

 

TKDN di Atas 40 Persen, Tapi Rantai Pasok Masih Jadi Tantangan

 

Dari sisi kandungan lokal, seluruh lini produk ALVA disebut telah memiliki TKDN di atas 40 persen.

 

Penggunaan komponen dalam negeri terus diperluas melalui kerja sama dengan pemasok lokal. 

 

Komponen yang dipasok mencakup rangka dan struktur kendaraan, panel bodi, sistem pengereman, hingga berbagai komponen kelistrikan pendukung.

 

ALVA juga melibatkan dua industri kecil dan menengah (IKM) binaan Kementerian Perindustrian untuk memasok battery box dan battery bracket.

 

Meski demikian, peningkatan TKDN masih menghadapi sejumlah tantangan. 

 

ALVA menyoroti skala pasar kendaraan listrik yang masih berkembang, kesiapan pemasok dalam memenuhi standar industri, kebutuhan investasi teknologi dan tooling, serta pentingnya kepastian pasar dan arah kebijakan.

 

Artinya, peningkatan kandungan lokal bukan hanya persoalan mengganti komponen impor dengan produk lokal. 

 

Kemampuan pemasok memenuhi standar industri otomotif dan menjaga konsistensi kualitas juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.

 

Kawasan Industri Dinilai Punya Peran Lebih Besar

 

ALVA juga menyoroti posisi kawasan industri sebagai salah satu fondasi pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

 

Beroperasi di Kawasan Industri Lippo Cikarang memberikan akses terhadap infrastruktur dasar, utilitas, tenaga kerja, jaringan logistik, serta kedekatan dengan pemasok dan mitra industri otomotif.

 

Ke depan, ALVA melihat kawasan industri dapat dikembangkan lebih jauh untuk mendukung industri kendaraan listrik melalui penyediaan energi bersih dan andal, perluasan infrastruktur charging, fasilitas riset dan pengujian bersama, serta peningkatan kemampuan IKM lokal.

 

"Ke depan, kami melihat peluang untuk semakin memperkuat integrasi antara produsen kendaraan, pemasok komponen, pengembangan teknologi, hingga infrastruktur pendukung. Kami berharap pengalaman yang kami bagikan dapat menjadi salah satu masukan dalam pembahasan RUU Kawasan Industri, sehingga pengembangan kawasan dapat semakin selaras dengan kebutuhan industri yang terus berkembang," ucap Purbaja.

 

Jaringan Charging ALVA Hampir Empat Kali Lipat

 

Di sisi infrastruktur, ALVA terus memperluas jaringan pendukung bagi pengguna kendaraan listrik.

Hingga September 2026, ALVA telah memiliki lebih dari 590 konektor Boost Charge. 

 

Jumlah tersebut meningkat hampir empat kali lipat dibandingkan sekitar 150 konektor pada 2025.

 

Selain jaringan charging, ALVA memiliki 19 titik penjualan, termasuk 10 ALVA Experience Center, serta lebih dari 130 titik layanan purnajual di berbagai wilayah Indonesia.

Berita Terkait

Motor Honda Mati Saat Standar Samping Turun? Jangan Panik, Ini Fungsi Pentingnya Motorhome Baze Berbasis Hilux Rangga Punya Konsep Knockdown, Begini Cara Kerjanya Motor Listrik Nasional Tak Cukup Andalkan TKDN, Bos ALVA Soroti Industri Baterai Motor ALVA Hilang Bersama Ponsel Pemiliknya, Fitur Anti Theft Ini Jadi Penyelamat TKDN Tembus 71.85%, Hino Fokus Penguatan Kapasitas Produksi Dalam Negeri Motor Listrik Adventure Pertama, Intip Kecanggihan United E-Motor RX6000 Danamon dan Adira Finance Tebar Promo Kredit Motor Sampai Tukar Tambah di IIMS 2026 Motoran Makin Trendy, Piaggio Indonesia Resmikan Dealer Equipment Collections dari Vespa
Berita ini 6 kali dibaca