Otomotifmedia.com - Industri kendaraan listrik atau New Energy Vehicle (NEV) di China mulai memasuki babak baru.
Setelah bertahun-tahun dihujani perang harga agresif, kini sejumlah merek besar seperti BYD, Xiaomi, GAC Aion hingga Volkswagen mulai menaikkan harga kendaraan listrik mereka akibat lonjakan biaya rantai pasok.
Fenomena ini menjadi sinyal bahwa era mobil listrik murah di China perlahan mulai berubah.
Melansir laman Carnewschina, kenaikan harga dipicu melonjaknya harga bahan baku baterai seperti litium karbonat serta krisis pasokan chip otomotif yang semakin menekan biaya produksi.
Laporan media China menyebutkan lebih dari 15 produsen otomotif telah melakukan penyesuaian harga sejak akhir April 2026.
BYD menjadi salah satu yang pertama mengumumkan kenaikan harga fitur ADAS “God’s Eye B” untuk lini Dynasty, Ocean, dan Fangchengbao.
Harga fitur tersebut naik dari 9.900 yuan menjadi 12.000 yuan. Dengan kurs saat ini sekitar Rp2.566 per yuan, kenaikan tersebut setara dari Rp25,4 juta menjadi sekitar Rp30,7 juta.
Tak hanya BYD, Xiaomi juga menaikkan harga seluruh varian SU7 sebesar 4.000 yuan atau sekitar Rp10,2 juta.
Sementara Volkswagen ID Series mengalami kenaikan antara 4.000–7.000 yuan atau sekitar Rp10,2 juta hingga Rp17,9 juta.
Toyota bZ4X pun ikut terdampak dengan kenaikan harga sekitar 6.000 yuan atau setara Rp15,3 juta.
Kenaikan biaya produksi disebut berasal dari dua faktor utama. Pertama adalah harga litium karbonat untuk baterai yang melonjak drastis.
Jika pada Juli 2025 harga litium masih berada di kisaran 75.000 yuan per ton atau sekitar Rp192 juta, kini angkanya mendekati 200.000 yuan per ton atau sekitar Rp513 juta.
Selain baterai, industri otomotif China juga sedang menghadapi tekanan besar dari pasokan chip memori otomotif. Ledakan kebutuhan chip AI global membuat suplai chip kendaraan makin terbatas.
Dalam tiga bulan terakhir, harga chip penyimpanan otomotif dilaporkan naik hingga 180 persen. Bahkan memori DDR5 kelas atas melonjak lebih dari 300 persen.
Kondisi ini membuat biaya produksi mobil pintar meningkat sekitar 3.000–7.000 yuan atau setara Rp7,7 juta hingga Rp17,9 juta per unit.
Tidak berhenti di situ, harga aluminium dan tembaga yang menjadi material penting kendaraan listrik juga ikut melonjak. Akibatnya, biaya bahan baku untuk satu mobil listrik ukuran menengah naik sekitar 1.800 yuan atau setara Rp4,6 juta.
Situasi tersebut membuat margin keuntungan industri otomotif China semakin tertekan.
Data China Passenger Car Association (CPCA) mencatat margin keuntungan industri otomotif domestik turun menjadi hanya 3,2% pada kuartal pertama 2026.
Beberapa produsen bahkan disebut mulai mendekati titik impas setelah bertahun-tahun terjebak perang harga demi mengejar volume penjualan.
Meski kenaikan harga massal belum sepenuhnya terjadi, analis industri menilai tren diskon besar-besaran di pasar EV China mulai memasuki akhir fase.
Produsen kini dipaksa mencari keseimbangan baru antara efisiensi produksi, margin keuntungan, dan persaingan pasar yang makin ketat.
Di tengah situasi tersebut, pasar kendaraan listrik global termasuk Indonesia kemungkinan ikut terdampak, terutama untuk model-model impor dari China yang selama ini dikenal agresif dalam harga.







