AI dan Data Center Makin Butuh Listrik, Energy Week 2026 Dorong Kolaborasi Lintas Industri

Penulis - | Editor - Harryt Dagu

Minggu, 06 September 2026 13:06:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AI dan Data Center Makin Butuh Listrik, Energy Week 2026 Dorong Kolaborasi Lintas Industri

OTOMOTIFMEDIA.COM – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan data center membuat kebutuhan terhadap listrik, konektivitas, serta teknologi penyimpanan energi semakin besar.

 

Kondisi ini mendorong pelaku industri untuk membangun kolaborasi lintas sektor, bukan lagi bekerja secara terpisah.

 

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam IEE Series – Energy Week 2026 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 2–5 September 2026.

 

Pameran ini mempertemukan sektor energi, teknologi, manufaktur, dan infrastruktur melalui tiga agenda utama, yakni Electric & Power Indonesia, The Battery Show Indonesia, serta Data Center Asia–Indonesia.

 

Pertumbuhan AI dan komputasi eksponensial membuat kebutuhan infrastruktur digital berubah. 

 

Data center tidak lagi hanya membutuhkan ruang dan server, tetapi juga pasokan listrik, bandwidth, konektivitas, serta sistem pendinginan yang semakin kompleks.

 

“Dengan munculnya AI dan exponential computing, cara kita membangun data center menjadi sangat berbeda, mulai dari kebutuhan compute, bandwidth, konektivitas, hingga sistem pendinginan yang semakin canggih, dan ini tentu melibatkan kerja berbagai sektor juga untuk mendukungnya,” ucap Hendra Suryakusuma, Chairman IDPRO, dalam forum “Future Outlook: Indonesia as a Digital Hub” pada Data Center Asia–Indonesia.

 

Menurut Hendra, pembangunan ekosistem digital Indonesia membutuhkan keterlibatan pemerintah, regulator, perusahaan telekomunikasi, institusi pendidikan, hyperscalers, hingga penyedia layanan cloud.

 

“Kita membutuhkan strategi kolaborasi antara berbagai stakeholders: pemerintah dan regulator, perusahaan telekomunikasi, institusi pendidikan, hyperscalers, hingga cloud providers,” ucapnya.

 

Indonesia Perlu Konektivitas yang Lebih Tangguh

 

Selain kebutuhan listrik, penguatan infrastruktur digital juga harus diikuti sistem konektivitas yang mampu menghadapi gangguan.

 

Denny Setiawan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menjelaskan, diversifikasi jalur konektivitas menjadi bagian penting untuk memperkuat keandalan infrastruktur digital Indonesia.

 

“Jadi, kita tidak hanya bergantung pada satu jalur, tetapi harus membangun konektivitas yang lebih resilient. Data Center yang tangguh menjadi fondasi bagi ekonomi digital yang berdaulat, inklusif, dan berkelanjutan. Jadi forum ini bukan hanya akan menyasar satu sektor, tetapi juga keterkaitannya dengan ekonomi yang lebih luas secara nasional,” ujarnya menjelaskan.

 

Posisi geografis Indonesia dinilai menjadi modal untuk memperkuat peran sebagai hub konektivitas regional. 

 

Namun, peluang tersebut membutuhkan infrastruktur yang saling terhubung dan tidak bergantung pada satu jalur komunikasi saja.

 

Pengembangan infrastruktur digital juga tidak bisa dilepaskan dari kesiapan sumber daya manusia. 

 

Kebutuhan tenaga kerja dengan kemampuan di bidang AI, data science, dan keamanan siber diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan industri.

 

Hendra menyebut faktor demografi Indonesia sebagai salah satu modal penting dalam membangun ekosistem digital.

 

“Indonesia adalah negara yang relatif muda, dengan lebih dari 72 persen penduduk berusia di bawah 48 tahun. Ini merupakan modal penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus menyediakan talenta bagi industri digital,” kata Hendra Suryakusuma.

 

Sementara itu, Chairul Hudaya, Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi (DIRBT) Universitas Indonesia (UI) sekaligus Chairman of Stakeholder, Policy & Regulation PJCI, menilai perguruan tinggi perlu memiliki jembatan yang menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan industri.

 

“Harus ada pihak profesional yang harus menjadi jembatan antara kampus dengan industri, sehingga terkoneksi dan cocok dengan kebutuhan industri yang ada,” ujarnya.

 

Pandangan serupa disampaikan Marsudi Wahyu Kisworo, Dewan Pengarah BRIN. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan talenta yang sesuai dengan perkembangan teknologi.

 

“Karena itu, pengembangan kurikulum dan pelatihan akademisi harus diarahkan agar mampu mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan industri,” katanya.

 

Tidak Ada Industri yang Bisa Berdiri Sendiri

 

Kompleksitas pembangunan infrastruktur energi dan digital membuat kemitraan menjadi kebutuhan utama. 

 

Rantai industrinya melibatkan banyak pihak, mulai dari penyedia energi, produsen perangkat, perusahaan konstruksi, operator telekomunikasi, penyedia teknologi, investor, hingga pengguna akhir.

 

Vital Patel, Managing Director Pioneer Consulting Asia-Pacific, mengatakan tidak ada perusahaan yang dapat mengembangkan ekosistem tersebut secara mandiri.

 

“Di industri ini satu perusahaan tak dapat berdiri sendiri tanpa kehadiran perusahaan lain, dan ekosistem ini semakin kompleks setiap harinya. Forum pertemuan semacam ini bisa mendorong para pelaku di industri ini untuk membentuk kemitraan,” ujarnya.

 

Kebutuhan kolaborasi juga terlihat pada hubungan antara infrastruktur digital dan transisi energi. 

 

Data center membutuhkan pasokan listrik yang besar dan andal, sementara peningkatan penggunaan energi terbarukan membutuhkan teknologi penyimpanan serta sistem kelistrikan yang lebih fleksibel.

 

Karena itu, Energy Week 2026 mempertemukan sektor ketenagalistrikan, baterai, dan infrastruktur digital dalam satu platform.

 

Industri Baterai Diminta Perkuat Ekosistem

 

Selain membangun kapasitas produksi, pengembangan industri baterai juga dinilai perlu memperhatikan seluruh rantai pasok dan siklus hidup produk.

 

Niko Chandra, Chairman IdBattery, asosiasi pendukung penyelenggaraan The Battery Show Indonesia, mengatakan peningkatan local content harus berjalan seiring dengan kesiapan industri dan pertumbuhan pasar.

 

“Bagi kami, sebuah ekosistem yang matang harus mempertimbangkan seluruh siklus hidup baterai, mulai dari bahan baku, proses produksi dan manufaktur, penggunaannya di lapangan, hingga keterlacakan, pemanfaatan kembali, daur ulang, dan pembuangan akhir, yang ini semua melibatkan lebih banyak pihak,” ucap Niko Chandra.

 

Menurut Niko, Energy Week 2026 juga dapat menjadi ruang bagi pelaku industri untuk menyampaikan masukan dan rekomendasi kepada pemangku kepentingan.

 

“Platform IEE Series - Energy Week 2026 jadi satu event yang tidak hanya menyatukan antar industri, atau antar stakeholder, tapi bisa menjadi wadah yang nantinya bisa menghasilkan berbagai policy, rekomendasi, memberi masukan dari para pelaku industri kepada stakeholder lain untuk bersama mempercepat kemajuan industri di sektor ini,” kata Niko memungkasi.

Berita Terkait

Mercedes-Benz C-Class Terbaru Makin Pintar, Dapat 10 Kamera dan Teknologi AI Daihatsu Bagi-bagi Ayla Modifikasi dan Motor, Program Gebyar Merdeka 2026 Resmi Dimulai Motor Listrik Nasional Tak Cukup Andalkan TKDN, Bos ALVA Soroti Industri Baterai Industri Plastik Tertekan, ExxonMobil Tawarkan Solusi Pangkas Biaya dan Downtime Kebakaran Hyundai Kona di Gresik, Begini Kronologi dan Respons Hyundai Makin Dekat dengan Pelanggan, Volkswagen Resmikan Showroom 3S Terbaru di Jakarta Selatan Kolaborasi Modifikator Otomotif dan Desainer Indonesia, Batik Cireon Pukau Osaka Industri Aftermarket di IMX 2026 dapat Suport Penuh Kementerian Ekonomi Kreatif dan Pemerintah Kota Bandung
Berita ini 4 kali dibaca