BYD Indonesia Respons Krisis Biaya Produksi EV China: Kami Masih Confident

Penulis - | Editor - Harryt Dagu

Rabu, 20 Mei 2026 08:04:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BYD Indonesia Respons Krisis Biaya Produksi EV China: Kami Masih Confident

Otomotifmedia.com - Industri kendaraan listrik China mulai menghadapi tekanan baru setelah bertahun-tahun menikmati pertumbuhan agresif lewat perang harga.

 

Lonjakan biaya bahan baku baterai, chip otomotif, hingga fluktuasi nilai tukar kini mulai memaksa sejumlah produsen EV menaikkan harga jual kendaraan mereka.

 

Namun di tengah situasi tersebut, BYD Motor Indonesia memastikan belum memiliki rencana jangka pendek untuk mengikuti tren kenaikan harga di pasar domestik.

 

Head of PR & Government Relation PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengakui dinamika global saat ini memang memberi dampak terhadap biaya produksi industri otomotif, termasuk kendaraan listrik.

 

“Sekali lagi saya sampaikan bahwa kami mengerti sekali dan memahami dinamika politik, geopolitik, ekonomi yang terjadi saat ini, baik di Indonesia, di global, di China, dan memang berdampak pada adanya fluktuasi dari cost of production,” kata Luther Panjaitan saat ditemui di PIK 2, Senin, 18 Mei 2026.

 

Meski begitu, BYD menegaskan strategi bisnis mereka di Indonesia disusun untuk jangka panjang dan sudah memperhitungkan berbagai potensi perubahan kondisi pasar sejak awal.

 

“Tapi yang saya sampaikan BYD di Indonesia investasi jangka panjang dan kami telah memikirkan kondisi-kondisi ini dari masa-masa kita melakukan comprehensive study," ucap Luther.

 

"Dan sampai saat ini kami masih tetap positif dan confident dengan strategi yang kami miliki, baik secara produk, pricing, juga promosi-promosi yang kami akan lakukan,” ujarnya melanjutkan.

 

Luther menambahkan hingga saat ini BYD belum melakukan perubahan strategi terkait situasi kenaikan biaya produksi global maupun fluktuasi kurs mata uang.

 

“Dan sampai saat ini belum ada perubahan dengan adanya situasi-situasi tersebut," kata Luther.

 

Meski tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian harga di masa depan, BYD memastikan langkah tersebut belum menjadi bagian dari strategi jangka pendek perusahaan di Indonesia.

 

“Ya kalau ditanya potensi (kenaikan harga) mungkin saja, tapi saat ini tidak dalam strategi jangka pendek kami," ucapnya.

 

BYD juga mengakui fluktuasi nilai tukar saat ini menjadi perhatian serius karena berdampak langsung terhadap sisi manufaktur dan produksi kendaraan

 

“Memang kami cukup prihatin ya dengan fluktuasi nilai tukar, dan itu memang sedikit banyak tentu saja pasti berdampak, khususnya di sisi manufaktur dan produksi," ujar Luther.

 

“Tapi komitmen BYD jangka panjang sampai saat ini kami belum ada Informasi dan strategi khusus menindaklanjuti fluktuasi dari kenaikan nilai tukar,” kata Luther memungkasi.

 

Diberitakan Otomotifmedia sebelumnya, industri kendaraan listrik China dilaporkan mulai memasuki fase baru setelah tekanan biaya produksi meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.

 

Sejumlah produsen seperti BYD, Xiaomi, GAC Aion hingga Volkswagen mulai melakukan penyesuaian harga kendaraan maupun fitur tambahan akibat naiknya harga litium karbonat, chip otomotif, aluminium, hingga tembaga.

 

Harga litium karbonat misalnya melonjak dari sekitar 75.000 yuan per ton pada pertengahan 2025 menjadi mendekati 200.000 yuan per ton pada Mei 2026. 

 

Dengan kurs saat ini sekitar Rp2.560 per yuan, kenaikan tersebut membuat biaya bahan baku baterai meningkat drastis dari sekitar Rp192 juta menjadi lebih dari Rp512 juta per ton.

 

Tak hanya itu, harga chip memori otomotif juga dilaporkan naik hingga 180 persen dalam tiga bulan terakhir akibat meningkatnya kebutuhan industri AI global.

 

Tekanan tersebut membuat margin keuntungan industri otomotif China terus menurun. 

 

Data China Passenger Car Association (CPCA) mencatat margin industri otomotif domestik hanya tersisa 3,2 persen pada kuartal pertama 2026.

Berita Terkait

Biaya Ganti Pelat Motor 2026: Rincian Resmi, Syarat, dan Prosedur di Samsat Masih Banyak yang Salah Paham, Ini Perbedaan Denda Lupa SIM vs Tak Punya SIM Biaya BBM Membengkak, Pemilik SUV Mewah dan Sport Car Mulai Cari Solusi Finansial Masih Belum Terlambat, Ini Komponen Penting yang Harus Dicek Pasca Mudik Lebaran EV Bisa Diandalkan untuk Mudik, BYD Hadirkan Posko Fast Charging di Sejumlah Lokasi Event Honda DBL Banten Series 2025 Tuntas, Honda BeAT Sukses Curi Perhatian Indonesia Sukses Ekspor 3 Juta Kendaraan Toyota ke Pasar Global Biaya Perawatan Suzuki Fronx Sangat Terjangkau, Konsumen Bisa Hemat Pengeluaran
Berita ini 6 kali dibaca