BYD Bongkar Rahasia Teknologi Hybrid DM: Mobil Irit 65 Km per Liter, Tenaga Tetap Responsif

Penulis - | Editor - Harryt Dagu

Selasa, 19 Mei 2026 08:04:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BYD Bongkar Rahasia Teknologi Hybrid DM: Mobil Irit 65 Km per Liter, Tenaga Tetap Responsif

Otomotifmedia.com - Di tengah tren kendaraan listrik yang terus berkembang, BYD mulai mendorong pendekatan berbeda lewat teknologi Dual Mode (DM). 

 

Bukan sekadar hybrid biasa, sistem ini menggabungkan karakter kendaraan listrik dengan fleksibilitas mesin konvensional untuk menjawab tantangan mobilitas harian, termasuk di Indonesia.

 

Teknologi BYD DM merupakan bagian dari lini New Energy Vehicle (NEV) BYD yang mengusung konsep “electric-first” atau menjadikan motor listrik sebagai sumber tenaga utama.

 

Sementara mesin bensin hanya berfungsi sebagai pendukung untuk menghasilkan energi listrik dan menjaga efisiensi saat dibutuhkan.

 

Pendekatan ini membuat pengalaman berkendara terasa lebih dekat dengan mobil listrik murni. Saat digunakan di area perkotaan, kendaraan bisa berjalan sepenuhnya menggunakan tenaga listrik tanpa konsumsi bahan bakar.

 

Namun ketika dipakai perjalanan jauh seperti mudik antarkota, sistem hybrid akan bekerja otomatis untuk menjaga efisiensi dan memperpanjang jarak tempuh.

 

BYD menyebut teknologi DM hadir dalam tiga karakter berbeda, yakni DM-i yang fokus pada efisiensi, DM-p untuk performa tinggi, serta DMO yang dirancang untuk kebutuhan off-road ekstrem.

 

Secara teknis, sistem ini mengandalkan motor listrik berdaya besar sebagai penggerak utama sehingga menghasilkan akselerasi instan dan minim hentakan. Mesin bensin bekerja lebih efisien sebagai generator saat daya baterai mulai berkurang.

 

BYD juga membagi cara kerja sistem DM ke dalam tiga mode berkendara utama.

Mode pertama adalah EV Mode, di mana roda sepenuhnya digerakkan motor listrik.

 

Dalam kondisi ini mobil berjalan senyap tanpa emisi dan cocok digunakan untuk mobilitas perkotaan.

 

Kemudian terdapat HEV Series Mode, saat mesin aktif sebagai generator pengisi baterai sementara roda tetap digerakkan motor listrik. Mode ini dirancang untuk menjaga efisiensi bahan bakar sekaligus mempertahankan kenyamanan berkendara khas EV.

 

Sedangkan pada HEV Parallel Mode, motor listrik dan mesin bekerja bersamaan untuk menghasilkan performa maksimal, terutama saat akselerasi atau menyalip di kecepatan tinggi.

 

BYD mengklaim teknologi DM generasi terbaru mampu mencatat konsumsi bahan bakar hingga 65 km per liter dengan jarak tempuh kombinasi lebih dari 1.800 kilometer.

 

Sistem ini juga didukung efisiensi termal mesin mencapai 46 persen, yang diklaim menjadi salah satu tertinggi di dunia saat ini.

 

Menariknya, BYD melihat Indonesia sebagai pasar yang sangat relevan untuk teknologi semacam ini. Selain kondisi geografis yang luas, infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik dinilai masih berkembang dan belum merata di seluruh daerah.

 

Di sisi lain, pengguna kendaraan di Indonesia masih membutuhkan fleksibilitas untuk perjalanan jarak jauh tanpa harus khawatir soal charging station maupun antrean SPBU saat momentum tertentu.

 

Karena itu, teknologi plug-in hybrid seperti BYD DM diposisikan sebagai “jembatan” antara kendaraan listrik murni dan mobil konvensional.

 

Tak hanya efisiensi, BYD juga menonjolkan kenyamanan kabin yang lebih senyap berkat dominasi motor listrik pada kecepatan rendah.

 

Karakter ini dinilai cocok untuk penggunaan harian di kota besar dengan lalu lintas padat seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung.

 

BYD juga mengeklaim sistem Blade Battery dan manajemen termal terbaru pada DM 5.0 telah dirancang untuk menghadapi suhu tropis dan kondisi jalan beragam seperti di Indonesia.

 

Dengan pasar kendaraan elektrifikasi nasional yang terus tumbuh, dari sekitar 1 persen pada 2022 menjadi 16 persen pada kuartal pertama 2026, teknologi seperti BYD DM diprediksi bakal semakin dilirik konsumen yang ingin beralih ke kendaraan elektrifikasi tanpa kehilangan fleksibilitas mobil konvensional.

Berita Terkait

Teknologi Common Rail Jadi Senjata Isuzu Tekan Konsumsi Solar dan Emisi Mobil Manual Sering Engine Brake, Waspadai Risiko pada Mesin dan Transmisi Perang Harga EV Makan Korban, Laba BYD Rontok Lebih dari Separuh Mobil Listrik Kena Pajak, tapi Warga Jakarta Dapat “Diskon” Ini Mobil Listrik Tak Lagi Bebas Pajak, Ini Rincian Aturan Terbarunya Perdana Digelar di Jogjakarta, Tiket IMX 2026 Series Dibanderol Rp 55 Ribu Perdana, Bus Pelibas Medan Offroad Tambang Diserahkan Hino di GIICOMVEC 2026 Perluas Jaringan di Sulawesi, PT Piaggio Indonesia Resmikan Dealer Motoplex 4 Brand di Makassar
Berita ini 24 kali dibaca